Tanjung Jumat, 18 mei 2013
09.00
Pagi itu aku packing menyiapkan barang-barangku
Koperku sudah terisi penuh, untuk keberangkatan ku ke Bojonegoro mengikuti bimbingan belajar untuk bisa kuliah di Universitas Al-Azhar Kairo Mesir esok harinya.
Jumat sore itu aku hanya akan berangkat dari tanjung rumahku ke Mataram dan tinggal semalam.
Berarti ini adalah hari terakhirku di Tanjung, tapi masih ada hari esok untuk menghirup udara Lombok.. aku ingin benar-benar menikmati hari terakhirku di pulau indah ini.
Handphone ku berbunyi, telepon dari kakakku yang ada di Mataram dan mengurus tiket keberangkatanku, "liq, untuk tiket besok gak ada, kakak udah pesenin tiket hari ini, berangkat jam 5 sore ini" begitulah kata kakakku sesaat setelah ku angkat telpon dan mengucapkan salam.
Keinginanku untuk merasakan panas lombok sehari lagi gagal, sore ini juga aku harus pergi meninggalkan lombok.
Aku duduk terdiam di kursi terminal yang kumuh dan tampak tidak terurus. Ibu dan Bapakku mengobrol disampingku, kakakku juga ikut nimbrung diantara mereka.
Tatapanku kosong mengarah kedepan melihat satu persatu bus disana pergi dengan penumpang yang sudah penuh, namun bukan bus yang akan kunaiki. Tempat menunggu itu mulai sepi, hanya beberapa anak muda dengan pakaian acakan kulihat duduk di pojok dengan tas punggungnya.
Seperti dugaanku, keberangkatan pasti akan molor, jangankan seorang sopir bus, anggota DPR pun sangat sering molor waktu dan molor di tempat tidur saat waktu sidang, sudahlah mau dikata apa lagi, aku tetap menunggu. Sejam kemudianlah bus warna merah yang yang akan ku naiki datang.
Aku berjalan menuju bus, dengan kedua orang tua ku di belakang mengikuti langkah ku.
Tidak, tidak ada tumpahan air mata di perpisahan itu, aku sudah biasa berpisah dengan mereka, tapi inilah perpisahan pertama yang paling jauh dan paling lama untukku dan orangtua ku.
Koperku sudah ada di bagasi, dengan tas ransel aku duduk di bagian tengah bus itu, pintu bus itu tertutup, kupandangi wajah kedua orang tuaku hingga tak terlihat lagi.
Inilah dia, perantauan ku dimulai
Hari ini diiringi senja lombok yang indah.. sendiri, dengan perasaan yang tak menentu
Perjalanan satu jam setengah menuju pelabuhan Lembar, satu-satunya pelabuhan penyeberangan dari lombok ke pulau Bali.. aku tak ingin menutup mata selama perjalanan ke pelabuhan..walau yang terlihat sepanjang perjalanan itu hanya pohon-pohon yang seakan berlari berlawanan arah dengan ku.
Jam 9 malam itu aku sampai di pelabuhan sekitar 30 menit harus menunggu antrian bus naik ke kapal..
Aku mulai lapar, nasi kotak yang kubawa seakan tak sabar untuk dibuka
Kuputuskan untuk memakannya di atas kapal nanti.
Aku terbangun di atas kursi panjang, pikiran ku langsung melayang pada pondok tempat ku belajar 6 tahun lamanya.
Mati lampukah ini??
Tidak, itu suara mesin kapal yang akan melabuh..bukan suara mesin diesel yang sering ku dengar di pondok saat mati lampu.
Mungkin aku hanya masih ingat rumah.
Kulihat jam di hpku menunjukkan pukul 2 dini hari.
Ku ambil sabun dari tasku dan segera mengambil air untuk sekedar cuci muka.
Perjalanan menyeberangi selat lombok selama 5 jam tak terasa. Aku melanjutkan perjalanan dari pelabuhan Padang bae di ujung timur pulau Bali menuju Gili Manuk di sebelah barat Bali. 4 jam menyisir pulau Bali ku manfaatkan untuk tidur.
Jam 6 pagi itu aku sudah akan mendarat di Banyuwangi
Ini adalah ke tiga kalinya aku menginjakkan kakiku di Pulau Jawa.
Perjalanan berlanjut ke Surabaya.
Surabaya, 19 mei 2013
16.00 wib
Aku berhenti di Terminal Surabaya, tampak bingung dan benar-benar gak tau harus kemana!
Banyak orang tiba-tiba berkumpul di dekat bus yang ku tumpangi menawarkan jasa angkat barang, turun dari bus seorang dengan badan besar langsung memegang Koperku...dia bertanya kemana tujuanku..ku bilang saja Sesuai petunjuk yang ku dapat dari temanku, dari Surabaya menuju terminal osowilangon yang entah dimana tempatnya. "Osowilangun mas" kataku.
Sukurlah, setidaknya aku tak perlu bertanya lagi, bapak itu membawa koperku menuju sebuah bus jurusan Osowilangun, ku berikan sepuluh ribu rupiah, jumlah terkecil yang ada di kantong ku saat itu.
Bus itu mulai berjalan, aku tak ingin tertidur, aku gak ingin terjadi sesuatu yang tidak ku inginkan jika aku tertidur... ku perhatikan terus jalan jalan Surabaya yang terlihat rumit, gak seperti lombok.
Dengan gedung-gedung besar dan menjulang ke langit..
Bus itu berhenti di pinggir jalan, tidak! Ini bukanlah sebuah terminal seperti perkiraanku, aku bingung... salahkah aku?
Aku mulai khawatir... aku ingin turun di terminal bukan di pinggir jalan seperti ini... 10 menit aku duduk disini, bersama banyak orang yang juga sedang menunggu juga.. ku lihat di antara mereka seorang bapak berkumis dengan baju warna hitam dengan bordiran warna putih di bagian belakang bajunya bertuliskan " Bojonegoro " mungkin allah sengaja mengirim bapak itu untuk menjadi penunjuk jalan bagi ku. Aku ingin segera menuju bapak itu untuk bertanya, ku rasa dia orang Baik-baik. Mataku terus memandang ke arah bapak itu sambil terus melangkah ke arahnya.. ia berdiri, tidak! Jangan pergi dulu ! Teriakku dalam hati..
Tapi apa boleh buat, berlawanan arah Denganku sebuah bus datang, semua orang yang menunggu disana berdiri seolah menunggu seorang presiden datang, padahal mereka hanya menunggu bus.
Aku ikut bergerombol mengikuti mereka menaiki bus yang sesak penuh, tak ada ruang sedikitpun untuk seekor ayam masuk lagi, namun orang-orang tetap saja di masukkan walau harus bersesakkan. Berdiri, aku harus melakukannya, entahlah berapa lama aku harus berdiri di bus yang sudah membuatku pusing. Ini perjuangan pikirku, yaa sudah aku ikhlas.
Bojonegoro, 07.00 wib.
"Assalamualaikum, alafwu ustad, ana sudah sampai terminal Bojonegoro " kataku sesaat setelah turun dari bus yang melelahkan tadi, berdiri selama dua jam dari 3 jam perjalanan membuatku ingin secepatnya merebahkan diri untuk tidur, entahlah harus tidur dimana nanti, tak apalah! Aku menunggu seorang yang akan menjemputku, seperti yang diperintahkan oleh Ust. Hafifi, orang yang ku telepon tadi.
Aku mulai tenang.
Aku sampai di depan sebuah rumah
bertingkat, mungkin ini rumah pimpinannya pikirku, aku benar-benar mengira tempat bimbingan ini adalah sebuah pondok pesantren, aku tak melihat orang dari dalam rumah itu, yang kuliat beberapa anak muda berjalan cuek melihatku yang seperti orang terlantar..
Akhirnya, bertemu juga aku dengan ust. Hafifi, orang yang ku tunggu dan menungguku.
Aku ada di lantai 2 sebuah ruko, ternyata ini akan menjadi tempat tinggal ku.
"Buk buk buk" tiba-tiba seperti suara orang mengetuk pintu kamar ku. Sepertinya bukan mengetuk, itu lebih kepada memukul pintu dengan tangan terbuka, "siapa ini mengganggu tidurku?" Ungkapku jengkel...ku lihat seorang dengan jas hitam dan sajadah di bahu kanannya.. topinya yang khas sepertinya membuatku ingat siapa orang ini, oiyaaa aku ingat, dia adalah qismul amn di pondokku yang kerjaan setiap harinya selalu memukul pintu..mataku belom terbuka lebar, aku masih belom sadar..hanya bayangan hitam lalu lalang di depan mataku bergerak cepat. . ku sadarkan diri kemudian mencoba membuka mata..samar terlihat ku perhatikan lebih jelas.. tak ada pintu tak ada orang berjas hitam, itu temanku yang menghilangkan debu di sajadahnya hingga menimbulkan suara.. dia bersiap untuk solat subuh..bayangan hitam itu dari kipas angin yang bergantung di langit-langit kamar ini.
Aku bermimpi.. mimpi yang buruk karena bertemu dengan seorang qismul amn yang sangar..dan ku takuti dulu..
Setelah benar-benar sadar karena disiram air wudhu' ku perhatikan hpku.. aku tidak percaya dengan apa yang terlihat di hp ku..
"Sabtu 15 juni 2013"
Benarkah ini?? Sabtu ke empat ku ada disini..berarti sebulan sudah... aku benar-benar tak percaya..
Tapi ini nyata..NYATA???
Ku coba mengingat mimpi yang ku alami tadi, sepertinya aku melakukan banyak hal dalam mimpiku... aku ingat! Aku belajar bersama banyak orang, aku dikerjai ustad dengan skenario perpisahan, aku berenang bersama banyak orang dan berlomba disana, aku berkumpul di balkon kamar, aku menonton stand up commedy secara langsung, aku Nonbar timnas Indonesia, aku pergi ke sebuah taman wisata yang terdapat api yang tak pernah padam.
Tak percaya, tidur yang segitu singkatnya aku sudah melakukan banyak hal.
Aku takkan melupakan hal-hal itu, aku takkan melupakan tokoh-tokoh yang ada dalam mimpi itu...
Aku akan mengingatnya...
Terima kasih teman-teman Mumtaza :)
Sudah menjadi bagian dari mimpi indah ini...ku harap kalian tetap menjadi tokoh mimpiku di negeri para nabi nanti.
Komentar
Posting Komentar