“Ayah, ini om Agi ya? Yang kemarin datang?” Anakku mendekat dan bertanya dengan antusias saat aku sedang focus pada layar laptopku. Aku sedang memeriksa email tugas dari mahasiswa-mahasiswaku yang seharusnya sudah terkirim jam 9 malam ini. Aku bangkit menggendongnya menuju sofa, istriku sedang membolak-balik album foto tua yang sudah lama tersimpan di atas lemari. Sambil memegang sebuah foto anakku kembali mengulang pertanyaannya tadi. “ ini om Agi kan Yah?” sambil menatapku. Aku tersenyum. Zahid, anakku yang baru berumur 5 tahun rupanya sudah mulai banyak ingin tahu, rasanya baru kemarin ia baru bisa mengatakan “ayaaiyaa iyaaa” sambil teriak tak jelas apa maksudnya, sekarang ia sudah sangat lancer mengucapkan huruf R yang kata ibuku tak bisa kulakukan sampai umur 7 tahun. Zahid akan lebih pintar dariku ucapku dalam hati dan mengamininya. “iya, ini om Agi sayang” jawabku menunjuk seorang dalam foto. sebelum ia bertanya pertanyaan lainnya, aku mencoba bertanya padanya terl...
RENCANA DAN PERSIAPAN Nama Rinjani sudah menggema lama di telingaku, ketinggiannya yang mencapai 3726 mdpl sudah lama seakan memanggilku, aku tinggal di Lombok, yup.. Lombok. Tempat gunung Rinjani itu sendiri, bahkan puncaknya bisa terlihat dari rumahku, malu rasanya di umurku yang mencapai kepala dua aku tak pernah sekalipun mendakinya, bayangan indah danau Segara Anak dan gunung barujari tampak jelas di depan mataku. Dan rasanya menyesakkan, terlebih lagi saat teman-teman yang pernah mendakinya bercerita panjang lebar tentangnya, semuanya semakin membuatku iri dan tak sabar ingin mendaki gunung berapi tertinggi ke dua di indonesia tersebut. Aku dan beberapa teman-temanku sudah merencanakan pendakian sejak tiga tahun lalu, semuanya sudah di atur dengan rapi, aku paling bersemangat dan menggebu, mengingatkan semua teman untuk tidak absen dalam perjalanan itu. Sayangnya, karena urusan kuliahku, akulah yang harus absen. Sakit hati rasanya, terlebih teman-teman yang akhirn...