RENCANA DAN PERSIAPAN
Nama Rinjani sudah menggema lama
di telingaku, ketinggiannya yang mencapai 3726 mdpl sudah lama seakan
memanggilku, aku tinggal di Lombok, yup.. Lombok. Tempat gunung Rinjani itu
sendiri, bahkan puncaknya bisa terlihat
dari rumahku, malu rasanya di umurku yang mencapai kepala dua aku tak pernah
sekalipun mendakinya, bayangan indah danau Segara Anak dan gunung barujari
tampak jelas di depan mataku. Dan rasanya menyesakkan, terlebih lagi saat
teman-teman yang pernah mendakinya bercerita panjang lebar tentangnya, semuanya
semakin membuatku iri dan tak sabar ingin mendaki gunung berapi tertinggi ke
dua di indonesia tersebut.
Aku dan beberapa teman-temanku
sudah merencanakan pendakian sejak tiga tahun lalu, semuanya sudah di atur
dengan rapi, aku paling bersemangat dan menggebu, mengingatkan semua teman
untuk tidak absen dalam perjalanan itu. Sayangnya, karena urusan kuliahku,
akulah yang harus absen. Sakit hati rasanya, terlebih teman-teman yang akhirnya
jadi melakukan pendakian memamerkan foto-foto mereka di media sosial
masing-masing, aku melihatnya dengan perasaan terluka, sakit hati, kuabaikan
begitu saja semuanya, tak ada yang kuberi tanda like satupun, Rinjani
berdiri di pundakku, berat.
Di tahun ini, tepat di hari ulang
tahunku, aku mengumpulkan beberapa teman dan menyampaikan rencana pendakian ke Rinjani
lagi, mereka merespon positif dan aku sudah berjanji untuk tidak melewatkannya
lagi kali ini, “lebaynya”, walaupun ada yang menawarkan 1 miliar dollar
kepadaku untuk membuatku melewatkan perjalanan ini, aku takkan menyesal untuk
melepas 1 miliar dollar tersebut demi Rinjani. Demi sang anjani.
Beberapa hari setelah itu, aku
kembali berkordinasi dengan teman-teman menentukan dan mengatur jadwal yang
tepat, mengajak sebanyak mungkin teman yang bisa diajak, mulai meminjam
beberapa peralatan pendakian dan menyampaikan rencana ini ke orang tua. Orang
yua mengizinkan, teman-teman setuju dengan tanggal yang kutawarkan, beberapa
teman sudah siap mebantu menyiapkan tenda dan alat memasak. Kami deal. Hari keberangkatan sudah
ditentukan, Puncak Rinjani sudah di depan mata.
Bayan, 25 juli 2015.
H-1 sebelum keberangkatan, 18
anak bujang yang akhirnya positif untuk melakukan pendakian ini berkumpul
termasuk aku, siap untuk melakukan perjalanan yang akan selalu dicatat dalam
memori masing-masing seumur hidup, kami berkumpul di rumah Rongap, temanku yang
sebelumnya sudah pernah menginjak puncak Rinjani, membicarakan hal-hal penting
tentang perjalanan ini, membagi tugas, mengulang kembali rencana yang belum
terselesaikan, berbicara banyak hal, bercanda dan tertawa, mengenang memori
lama saat masih di pondok pesantren. Setelah
semua matang, barulah masing- masing mencari tempat tidur yang nyaman.
Malam sudah larut, Beberapa teman
juga masih terdengar mengobrol sambil berbaring, Boncel dan Bagong mementaskan
lawakan spontan mereka, One, Aziz, Huda,Rizal, Arif, dan Arif (ada tiga orang
bernama Arief Rachman hakim; termasuk Rongap)dengan senantiasa mendengar dan
tertawa terbahak-bahak, Ranggang sibuk dengan handphonenya, dan aku memilih bermain
domino bersama Sulaiman, kak Eka dan Zaky, sambil sesekali tertawa mengejek sulaiman yang
terus-terusan kalah. hingga tak terasa
malam sudah semakin larut, ayam seudah terdengar berkokok dan kami belu juga
tidur, padahal dalam beberapa jam lagi kami akan melakukan perjalanan panjang
yang akan sangat melelahkan. Barulah jam 4 dini hari rumah Rongap berasa sepi,
dan kami sudah di awang-awang mimpi.
Bayan, 26 juli 2015
Kokokan ayam
menandai khas pagi yang cerah itu, rumah Rongap kembali ramai, tak terlihat
mata mengantuk bahkan bagiku dan mereka yang semalam begadang. Kami mulai
bergerak dengan penuh semangat, aku pergi berbelanja beberapa kebutuhan yang
yang belum ada, beberapa repacking barang-berang masing-masing, Zaky melempar set
up, Bagong menanggapi dengan punch line, dan yang lain menertawakan, Zul sudah
siap dengan ransel yang tak pernah dilepasnya, Jibon mengelap kaca matanya,
Ranggang masih sibuk dengan Hp-nya,dan
Boncel duduk santai tanpa ada beban yang harus ditanggungnya, semua terlihat
begitu santai, hanya Rongap sang tuan rumah yang tampak sangat sibuk menyiapkan
pacarnya (baca: kamera Nikkon) dan merapikan rumahnya yang berantakan karena
kami (Maaf Rongap L
).
Truk yang kami sewa untuk
transportasi datang jam 8 pagi sesuai jadwal, setelah sarapan dan semua barang
dinaikkan, kamipun siap untuk berangkat menuju Sembalun, start point pendakian.
Ada banyak jalur yang bisa dipakai untuk menuju Rinjani, di antaranya jalur Sembalun,
jalur Senaru, Loloan, Santong dan masih beberapa lagi, masing masing memiliki
kemudahan dan tantangan sendiri-sendiri (menurut teman-teman), tapi kami
memilih jalur Sembalun, selain jalur ini adalah yang paling umum digunakan
pendaki juga karena pengalaman teman-teman yang berpendapat jalur inilah yang
paling bagus untuk dijadikan start poin.
Dengan doa dan bekal ketupat Bagong
(nama orang), kami akhirnya memulai perjalanan ini. Bismillahirrohmanirrohim. Sempat tersendat setelah 15 perjalanan
karena gas untuk memasak ternyata tertinggal di rumah Rongap, beruntung pak
Arifin (bokapnya Rongap) mau mengantarkan gas tersebut ke tempat kami, dan kami
harus menunggu 15 menit lagi, lumayan
untuk Rongap yang ternyata belum sarapan karena
kesibukandi rumahnya tadi (lagi-lagi maaf untuk Rongap dan bapaknya yang
kami repotkan L )
.
Sembalun, di hari yang sama.
Kami tiba di Sembalun sekitar pukul
10 pagi, setelah menurunkan barang-barang dan menyelesaikan semua administrasi
pendaftaran yang memakan waktu hampir satu jam, barulah kami benar-benar
memulai perjalanan ini, mulai berjalan kaki, dan mulai menyiapkan hati. “ Rinjani,
we are comiiiiiiiiing”.
PERJALANAN DIMULAI
Sembalun siang
itu terasa sangat panas, di awal perjalanan kami sudah disuguhkan padang rumput
yang luas dan indah bak bukit telletubies,dengan rumput yang menguning karena
kemarau dan beberapa pohon besar saja hingga tak ada yang menghalangi sinar
matahari menyentuh daratan dan kepala, sinarnya bisa membuat pusing, dan radiasinya
bisa membakar kulit. satu jam berjalan kami beristirahat beberapa menit di bawah
pohon besar, para pelawak dadakan masih sangat bertenaga untuk membuat kami
terbahak, Bagong yang terpleset semakin
mengocok perut, perjalanan dilanjutkan.
Kami tiba di pos pertama sekitar
pukul 13:00, perjalanan dari start point menuju pos pertama hampir tak ada
halangan, hanya melawan panas dan harus berhati-hati melihat banyak ranjau darat (baca: tai sapi) bertebaran,
jangan sampai terinjak. Beberapa menit di pos pertama, kami melanjutkan
perjalanan menuju pos 2.
Bukit semakin tinggi dan panas
semakin membakar,dari pos 1 hingga pos 2 memakan waktu sekitar satu jam,
beberapa menit melewati hutan kecil yang cukup untuk mendinginkan kepala.
Pukul 14:00 kami tiba di pos 2
yang terlihat ramai, penuh dengan pendaki lainnya, turis asing, lokal, pria,
wanita, dewasa hingga anak-anak. Tak ada pohon besar yang tumbuh di sekitar,
bangunan kecil seperti berugak dipenuhi pendaki lain, hingga kami harus
beristirahat tepat di bawah terpaan sinar matahari siang mengikuti gaya bule
yang berjemur tanpa baju menunggu porter mereka yang juga tanpa baju
menghidangkan makan siang mereka, sedangkan kami makan siang dengan ketupat Bagong
dan saur. Berbicara tentang porter,
porter Rinjani terkenal karena tenaga mereka yang kuat, aku takjub melihat
mereka memikul beban berat di pundak bergonta-ganti kiri kanan sambil terus
berjalan menanjak hanya dengan sandal jepit dan kaos, bahkan beberapa ada yang
tak menggunakan baju, aku setuju dengan teman-temanku, mereka benar-benar
bertenaga unta. Aku saja yang hanya membawa carrier berisi pakaian dan beberapa
potong roti sudah merasakan sakit di pundakku, apalagi mereka, mulutku bergumam
“ahh mungkin karena mereka sudah terbiasa”; padahal hatiku berkata “wooowwwwww”.
Kami melanjutkan perjalanan
menuju pos tiga, semakin tinggi melangkah, semakin mempesona pandangannya, Rongap
tak henti-henti mengabadikan setiap momen dengan kameranya, melewati bukit dan sungai
kering bekas aliran lava dari letusan gunung Rinjani ratusan tahun silam yang
membentuk pinggiran tebing terpahat alami yang tampak sangat eksotis. Tenaga sudah
mulai menipis dan kelompok kami mulai terpisah, sulaiman, jibon dan aziz jauh
meninggalkan kami, dan aku jauh di belakang lainnya, kami lebih sering
istirahat, tapi gilanya boncel, zaky dan zul belum berkurang sedikitpun, mereka
berjoget seperti orang gila menghibur kami dan melepas kepenatan.
Pos tiga hanyalah bangunan kecil
berukuran 3x3 meter untuk berteduh, kami duduk sesaat menyatukan kelompok yang
terpisah sebelum mendaki bukit penyesalan. Perjalanan kembali dilanjutkan
menuju Pelawangan.
Semakin sore, angin semakin
bertiup kencang dan hawa dingin sudah merasuk tubuh, sinar matahari yang mulai
redup menjadi background pemandangan indah bukit bukit yang mengelilingi kami, dan puncak
bukit penyesalan terlihat semakin dekat.
Kabut mulai menutupi pandangan, dan kami melewati hutan tropis yang sesekali meneteskan
rintik-rintik hujan, indah sekali.
Aku merasa sudah sangat jauh
mendaki, namun belum juga sampai di Pelawangan, puncak bukit yang tadi kulihat
ternyata hanyalah puncak semu, di puncak itu masih terlihat puncak yang
lainnya, di puncak yang lainnya juga terlihat puncak yang lebih tinggi, terus
seperti itu hingga matahari benar-benar tenggelam dan sinar lampu senter yang
akan membimbing kami menuju Pelawangan. Selamat datang di Bukit Penyesalan. Bukit
yang menipu pandangan, menguatkan semangat dan kemudian membantingnya sangat
keras, bukit yang puncaknya bukanlah puncak sesungguhnya, bukit yang membuat
anda mengeluh karena ilusinya. Bagiku yang
baru pertama kali melewati bukit ini, ini bukanlah bukit penyesalan, ini adalah
bukit penipuan, karena meski terjalnya menyiksa raga, aku tak sedikitpun
menyesal mendakinya, aku lebih menyesal karena dengan bodoh selalu bertanya “
berapa bukit lagi?”, selain tertipu fatamorgana kecil berupa puncak bukit, aku
juga selalu tertipu dengan teman-teman yang selalu menjawab “satu bukit lagi”,
terus seperti itu sampai melewati tujuh bukit. ( sialan -_-) .
Dengan cahaya lampu senter, aku
merangkak melewati bukit penyesalan, tertatih-tatih
melangkahkan kaki sedikit demi sedikit, sebentar-sebentar berhenti sejenak
mengatur nafas, teman-teman sudah jauh meninggalkanku, dan aku terus melangkah
sampai akhirnya benar-benar sampai di puncak Pelawangan. Benar-benar sampai dan
tidak tertipu lagi.
Kami sampai sekitar pukul 20:00,lebih lama dua jam dari target
awal kami, namun lelah benar-benar terbayarkan di atas ketinggian 2600an mdpl
tersebut, tenda-tenda para pendaki lain tampak indah berbaris dengan cahaya
redup didalamnya, bukit penyesalan di belakang, puncak sang Rinjani kokoh di
atas, cahaya bulan terpantul dari danau Segara Anak di bawah kami, kami di atas
awan, setengah impian terwujud.
Setelah mencari
tempat kosong, kami segera mendirikan tenda, dan ini harus memakan waktu lama
karena salah satu dari tiga tenda yang kami bawa sangat susah didirikan karena
strutur tanah yang sulit dipatok, hampir satu jam sampai akhirnya ketiga tenda
benar-benar berdiri, penderitaan semakin bertambah karena dua panci yang kami
bawa ternyata bocor (ini cerita sesungguhnya, bukan mendramatisir). Terpaksa kami
harus melewati malam dengan ketupat Bagong lagi. Cukup untuk mengisi tenaga
yang sudah hampir habis.
Kami tak
berlama-lama berada di luar tenda karena angin Pelawangan berhembus sangat
kencang dan dingin tetap bisa menembus dua jaketku, kami segera tidur
menyiapkan energi sebelum melakukan pendakian sesungguhnya.
SUMMIT ATTACK
Pelawangan, 27 juli 2015.
Pukul 01:00
dini hari Aziz membangunkanku, beberapa teman juga sudah bangun, kami akan
melakukan summit attack malam itu, beberapa lainnya masih tertidur pulas dan
tak ingin muncak, karena sebagian besar dari mereka sudah muncak sebelumnya.
Aku memakai satu jaket saja meski
udara sangat dingin, aku tak ingin semakin memberatkan beban dan hanya membawa
sebuah sarung saja untuk jaga-jaga. Yang lainnya sudah siap, dan kami memulai
summit attack, dari ketinggian 2600an mdpl artinya masih ada ada sekitar satu
kilo vertikal lagi untuk menuju puncak Rinjani. Bismillahirrohmanirrohim.
Cahaya-cahaya
dari senter dan head lamp terlihat berbaris sepanjang jalur pendakian,
menandakan antrian ratusan pendaki menuju puncak, terjal, berbatu, akar-akar
pohon, semak dan pohon tumbang yang
menghalangi dihadapi. Setelah sampai di titik atas bukit terjal tadi,
selanjutnya medan yang harus kami lalui berupa pasir dan kerikil, sehingga
membuat satu langkah ke depan sama dengan setengah langkah, bahkan sesekali
satu langkah kedepan menjadi dua langkah mundur, dan itu membuat kaki semakin
berat melanjutkan pendakian, terlebih mental yang sudah down melihat para
pendaki satu-persatu membalap kami.
Badan membeku,
bibir membiru dan aku terpisah dari teman-temanku tanpa senter, aku melangkah
perlahan mengandalkan cahaya senter pendaki lainnya di belakang, semangatku
masih penuh, aku tetap melangkah.
Puncak Rinjani
terlihat sangat dekat, tapi terasa sangat lama untuk dituju, rencana melihat
sunrise dari puncak harus gagal karena aku banyak memakan waktu dengan
beristirahat, bahkan aku sempat tertidur sesaat dibawah batu besar di tengah
perjalanan tadi, mentalku semakin down, aku melihat matahari terbit begitu mempesona
dari atas batu di lereng Rinjani, terasa haru dan air mata sedikit menetes. Aku
duduk mengeluarkan sebuah buku kecil dan pena dan mulai menulis sebuah puisi.
DI
SISI SANG RINJANI
Di sisi sang Rinjani
Ketika semua yang nyatanya itu
Terlihat seperti ini.
Ketika wajah wajah tak berdaya
Penuh dengan semangat membara.
Ketika terlihat danau biru
Meneteskan air mata bercampur debu.
Di sisi sang Rinjani
Terhampar bunga indah abadi yang tak abadi
Tertunduk malu melihat kuasa maha abadi.
Terbentang sekeliling padang ilalang
Luas sejauh mata memandang
Terlihat jelas besarnya sang maha penyayang.
Di sisi sang Rinjani
Ku temukan teman.
Tuhan, tumbuhan, hewan, burung berkicauan,
Wisatawan, teman-teman, dan teman.
Di sisi sang Rinjani
Kutemukan musuh-musuhku
Buruk, lemah, dan egoku
Keluh, nafsu dan AKU.
Semangat masih
membara namun kaki semakin merana, ditambah dingin dan kantuk tak bisa kutahan
lagi, hingga tak sadar aku sudah melayang ke alam mimpi sambil terduduk di atas
sebuah batu. Aku menyerah, pulang dengan
tulisan gagal di jidatku. Aku gagal, sulit kupercaya tapi aku benar-benar telah
gagal. Sebenarnya saat terbangun, aku ingin melanjutkan pendakian dan sudah
berjalan beberapa meter, namun hari sudah semakin terang dan salah seorang
pendaki yang turun mengingatkanku kalau angin semakin kencang dan sangat
berbahaya, dan pendaki yang sudah mulai turun menerbangkan debu yang bisa
menyakitkan mata, memang itu bukanlah alasan, bagaimanapun aku telah gagal. Di impian
menuju puncak yang sudah lama aku dambakan terasa sia-sia. Aku turun dengan
perasaan pilu, sedih tak bisa disembunyikan lagi dari wajahku, aku terus
melangkah turun dan kepala tertunduk.
(lupakan
kesedihan!) jalan turun terasa sangat ringan, karena kami bisa meluncur dengan
cepat seperti bermain ski pasir, namun tetap harus berhati-hati karena
banyaknya batu dan jurang yang menganga lebar di sebelah kiri dan kanan. Kesedihan
berkurang saat perjalanan turun aku bertemu dengan ranggang yang ternyata juga
gagal mencapai puncak, terlebih saat dia
bercerita kalau banyak teman-teman yang juga gagal, ternyata aku tak
sendiri, dan gagal bersama terasa tidak sesedih saat tahu kalau kita gagal
sendiri. Kami kembali ke tenda, dan bersiap turun menuju danau Segara Anak.
Komentar
Posting Komentar