Langsung ke konten utama

KENANGAN YANG HILANG


               

PROLOG

                Aku mencoba meluangkan waktu liburku sore ini dengan berjalan melihat suasana kota kecilku, Tanjung, ibukota sebuah kabupaten kecil Lombok Utara yang baru beberapa tahun berdiri setelah pisah dari induknya lombok barat.

Aku menghabiskan masa kecilku di kota ini, dulu kami masih menyebutnya kecamatan Tanjung. Kecamatan dengan puluhan orang menghabiskan sore mereka dengan bermain bola di satu-satunya lapangan bola di sini. Beberapa orang dewasa bermain di lapangan besar lengkap dengan seragam mereka, kami anak-anak kecil bermain dipinggir pinggir lapangan dengan bola plastik dan gawang dari sandal, tentu tak ada kostum, kadang bahkan tak berbaju,sudah pasti tak bersepatu. Aku masih bingung mengapa kami dulu begitu kuat bermain bola tanpa alas kaki, padahal di sekitar lapangan banyak tumbuh pohon pohon cemara besar yang setiap hari menjatuhkan biji biji tajam, cukup sakit jika diinjak dengan kaki telanjang.

Lapangan saat itu hampir tak pernah sepi dari anak anak kecil bermain bola, jumlahnya menurun jika sudah datang musim layang-layang, satu satunya hal yang bisa menurunkan pamor sepak bola saat itu hanyalah layang-layang. besar, kecil, tua, muda seolah sudah berjanji untuk menerbangkan layang layang mereka bersama. Semua orang menghadap ke atas memegang kaleng tempat gulungan benang mereka,langit dengan sinar matahari yang mulai temaram dihiasi benda terbang warna warni, sebagian nampak memiliki ekor yang juga ikut bergoyang, beberapa tampak menunggu di tengah sawah kosong yang baru dipanen memegang kayu kayu tinggi, mereka seperti pemburu yang lahap melihat mangsanya dan siap mengejar jika ada layangan yang putus, sebagian besar layangan putus yang dikejar tak sampai ke tangan para pengejar, karena nyangkut di pohon atau yang paling sering karena rusak saat diperebutkan, tapi hal ini takkan menghentikan laju para pengejar untuk menunggu kembali esok harinya.

Tempat ini sangat tak asing bagiku, aku hanya merasakan suasana yang sangat berbeda dari yang pernah aku alami dulu, terkagum dengan semua perubahan ini dan kadang tak percaya kalau ini adalah tempat bermainku dulu, semua memori indah masa kecilku berkumpul lagi di benak saat melihat sebuah gedung besar dan bertingkat di tempat penuh kenangan ini, aku masih ditempat yang sama, dengan bentuk yang berbeda. Tempat penuh kenangan ini sekarang bertuliskan “KANTOR BUPATI KABUPATEN LOMBOK UTARA’’. Samar aku membaca tulisan berbeda, bayang bayang masa kecil itu tak pergi dari benak, gerbang  kecil  yang semakin jelas terlihat bertuliskan ”SDN 2 Tanjung” .

HORMAAAT...... GERAK !!!

                “hiduplah indonesia raya” ....

                Bendera merah putih sudah sampai di ujung tiang bendera namun tak berkibar, angin pagi itu tak cukup kencang untuk meniup sang merah putih hingga berkibar, aku berdiri tepat di hadapan bendera dengan tangan hormat, Trio Pengibar bendera Nyoman, Yeyen, dan Sarita sudah melaksanakan tugasnya, Rima yang memandu nyanyian lagu Indonesia raya dengan gerakan tangannya yang lembut sudah kembali ke tempatnya, aku berteriak menegakkan tangan-tangan hormat siswa siwi di belakangku. Seperti biasa aku menjadi pemimpin upacara lagi senin itu, aku sudah terbiasa dengan tugas ini, tugas yang sudah kulakukan hampir dua tahun. Pak Juliadi mengumpulkan kami di depan kantor guru saat beliau menugaskan kami sebagai petugas upacara senin untuk pertama kalinya. Beliau tampak tak berpikir saat menunjukku sebagai pemimpin upacara, kemungkinan besar ini adalah tugas warisan yang diturunkan oleh kakakku yang dulunya juga pemimpin upacara wajib di sekolah.

Waktu terasa berjalan sangat lambat saat kami bertugas untuk pertama kali, beberapa kali aku tampak kehilangan keseimbangan saat berbalik badan, Binti yang mambacakan susunan rangkaian acara upacara terlihat gugup berdiri diapit oleh guru-guru, ia sudah mempersilakan pembina upacara untuk maju menempati posisi, Ibu kepala sekolah yang pernah menamparku dalam sebuah peristiwa berdiri tepat menatapku, aku sudah bersiap mengeluarkan kata pertamaku untuk tugas ini. ”kepada. Pembina upacara. Hormaaat.... gerak !!!” . upacara tetap berjalan lancar tanpa kendala, hanya waktu yang terasa enggan berputar, Nyoman terlihat seperti berjalan membawa bendera emas 70 kilogram, Agus membaca Undang-Undang Dasar terdengar seperti membaca puisi dengan penuh penghayatan, ditambah pidato pembina upacara yang seakan tanpa ujung, hanya Yazid yang membaca doa di akhir upacara yang terdengar sempurna dan cepat. Upacara telah selesai dan pemimpin upacara diperkenankan meninggalkan lapangan upacara.



                Aku duduk di bagian selatan alun-alun kota, alun-alun ini adalah tempat yang sama untuk kami bermain bola dulu, masih berbentuk lapangan namun sudah sangat jarang digunakan untuk pertandingan sepak bola. Sepanjang pinggiran alun-alun dipenuhi pedagang-pedagang yang menjajakan makanan-makanan kecil dan minuman. Para remaja terlihat santai duduk disekitar dagangan menghisap rokok atau sekedar minum sambil berbincang, beberapa orang berkumpul tertawa lepas masih dari atas motor  masing-masing. Aku juga masih dari atas motor memandang terus ke arah kantor bupati, memperhatikan satu demi satu perubahan besar yang terjadi, di tanah itulah aku dan kawan-kawan menghabiskan sebagian hari, dimulai dengan upacara hari senin, atau senam pagi setiap hari. Di tanah itu aku mulai mencintai negeriku memimpin ratusan orang lainnya hormat pada merah putih. Aku mencoba memperhatikan tanah itu kembali,  hingga angin sore mengingatkanku kepada Pohon ketapang yang hilang.



                BENTENG YANG ROBOH

                 

                Halaman sekolah tempat kami upacara dan senam juga merupakan tempat bermain favorit kami, memang tak begitu luas namun sepertinya cukup untuk sekedar kejar-kejaran. Masa SD-ku bisa dibilang masa yang luar biasa, masa kami belum terkontaminasi oleh terangnya teknologi, masa dimana seluruh permainan terbuat dari hal hal sederhana namun membahagiakan. Satu-satunya benda canggih tak berkabel  yang kumiliki saat itu adalah sebuah Tamagotchi, benda berlayar dengan permainan memelihara binatang yang saat ini aku tak mengerti keseruannya.

 Permainan-permainan kami  berganti ganti tergantung musimnya, saat tiba musim gambaran, seluruh halaman sekolah hingga lapangan didepan sekolah dipenuhi siswa dan kertas kertas bergambar yang berterbangan, diikuti teriakkan “Sak” jika gambaran yang dilempar tadi sudah jatuh dan menghadap ke atas, atau kata “Dem” jika gambaran jatuh dalam keadaan terbalik. Atau jika tiba musim “keke” maka hampir di setiap ruang kelas akan terdengar suara-suara pantulan bola bekel dan keke  yang dijatuh-jatuhkan, permainan ini tak kenal laki-laki atau perempuan, setiap jam istirahat semua duduk tak beralas melepas sepatu bersiap melempar bola mengambil keke, mengikuti peraturan permainan.

Di antara banyak jenis permainan yang ada, permainan Bentenglah yang paling kusuka, selain karena bisa dimainkan beramai-ramai, jugakarena permainan ini tak kenal jenis kelamin, siapapun boleh ikut. Main Benteng, begitu kami biasa menyebutnya, dimainkan oleh dua kelompok yang berisi anggota berjumlah tergantung kesepakatan bersama, masing masing kelompok memiliki sebuah benteng dari batu atau pohon,  dan setiap anggota satu kelompok wajib menjaga bentengnya agar tak disentuh oleh anggota kelompok musuh, seorang pemain yang berhasil menyentuh anggota musuh, maka musuh yang tersentuh harus menjadi tawanan, jika benteng tersentuh pemain musuh, permainan dimulai dari awal dan kelompok yang berhasil menyentuh benteng lawan mendapatkan satu poin. Permainan berakhir saat semua lelah, atau saat perdebatan tentang skor mulai. Hampir setiap selesai bermain Benteng kami berdebat tentang skor akhir permainan, tak ada yang benar benar menghitung karena serunya kejar-kejaran dalam permainan, tak ada yang kecewa saat kalah, begitu juga tak ada yang terlalu bereforia saat menang, semua akan berjalan biasa saja hingga keesokan harinya kami mengisi benteng kami lagi.

Sebuah pohon ketapang yang cukup besar dulu merupakan benteng langganan aku dan beberapa teman, walau tidak bermainpun kami masih sering berkumpul dibawah pohon tersebut, batang yang lurus dan cabang yang mengembang seperti berbentuk payung meneduhkan kami. Dibawah pohon itu banyak cerita terjadi, banyak kenangan yang berusaha aku ingat lagi, satu-satunya hal yang bisa kuingat dari bawah benteng kami adalah kisah cinta monyetku.

                Matahari sepertinya sudah akan terbenam sore ini, aku masih duduk melihat gedung besar itu, aku tak melihat pohon ketapang peneduh itu lagi, aku tak melihat benteng kami. Benteng kami kini telah roboh.

                Aku menyalakan mesin motorku, sudah lama rasanya aku duduk, kenangan kenangan masih terlihat jelas, seorang wanita yang kusebut cinta monyet membawa senyum kecil kepergianku. Aku ingin kesini lagi esok, menceritakan kenangan kenangan  yang hilang.



Bersambung











                 

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Forget me!

sudahlah, biarkan rasa ini akan abadi dalam hatiku biarkan uapan cinta itu semakin memenuhi ruang hati ini biarkan rasa rindu itu menghantui setiap malamku biarkan rasa rindu itu semakin menusuk dan menyakiti hatiku biarkan rasa rindu itu slalu menggerogoti bagian tubuh ini biarkan rasa rindu itu akan slalu menyusahkan mata ini untuk terpejam biarkan biarkan namamu terus melekat di otakku biarkan namamu akan terus tertulis dalam hati ini biarkan namamu akan terus ku perhatikan dengan senyuman biarkan namamu akan menjadi penggugah semangatku biarkan biarkan otak ini terus membayangimu biarkan otak ini terus mengingat masa-masa indah kita biarkan otak ini terus berfikir untuk dapat memperhatikanmu biarkan! Tapi kamu singkirkan rasa yang pernah ada di hatimu untukku singkirkan bayangan masa lalumu yang menyakitkan karenamu singkirkan senyumanmu saat mendengar namaku singkirkan tawamu saat mengingat candaku singkirkan semua yang membuatmu mengingatku singkirkan s...

KPR

King Park Rangers “Ini adalah kekalahan kita yang pertama di kandang kita sendiri, mari kita rayakan bersama!” sahut seorang pelatih tim sepakbola dalam ruang ganti timnya. Ia adalah seorang pelatih asal Indonesia yang sudah memegang lisensi kepelatihan tingkat FIFA. Karena kedekatannya dengan Harry Thohir, sang pemilik klub sepakbola asal Indonesia juga, pelatih asal Indonesia tersebut mendapat kepercayaan menduduki kursi kepelatihan King Park Rangers, klub yang baru terdegradasi dari kasta tertinggi Liga Inggris. “Apakah kau bercanda coach?! Ini kekalahan bukan kemenangan, bukankah ini sangat memalukan? Ini kekalahan besar! hampir setengah lusin bola tadi memasuki jala kita!” Sahut Timberlake sang penjaga gawang. “Aku adalah pelatih kalian! Aku yang memegang kendali kalian!” jawab sang pelatih. semua pemain kecuali Timberlake tidak heran dengan keputusan pelatih, karena setiap apapun itu yang baru pertama kali terjadi pelatih asal Indonesia itu ...

ACARA RAHASIA

Hal ini terjadi beberapa tahun yang lalu, saat aku dan beberapa kawan menjadi anggota sebuah acara rahasia. acara terpenting dalam hidup yang tak boleh bisa di lewatkan oleh kita. Acara ini kami namakan "nonton bola tengah malam lewatin kali gelap gelapan" singkatnya NBTMLKGG. Ini acara rutin malam minggu atau senin dini hari dan sya menjadi salah satu anggotanya, saya ingin berbicara mengenai banyak hal tentang acara rahasia ini, diantaranya adalah hal penting yang harus diperhatikan untuk menjadi anggota acara ini diantaranya : 1. Mengetahui jadwal tayang bola club besar yang akan bertanding berikut jam dan stasiun tv penyiarnya. karena kalau salah jadwal kita bisa berjalan sia sia untuk hal yang sia sia pula (pernah kejadian) 2. Mempunyai link yang bisa di ajak kerjasama. Ini juga penting, biasanya kami memiliki seorang teman dengan inisial H A Muhammad yang mengurus hal ini, kebetulan rumahnya gak jauh dari posisi awal kami, dia juga punya tetangga tetangga yang...