“Ayah,
ini om Agi ya? Yang kemarin datang?”
Anakku mendekat dan bertanya
dengan antusias saat aku sedang focus pada layar laptopku. Aku sedang memeriksa
email tugas dari mahasiswa-mahasiswaku yang seharusnya sudah terkirim jam 9
malam ini. Aku bangkit menggendongnya menuju sofa, istriku sedang
membolak-balik album foto tua yang sudah lama tersimpan di atas lemari. Sambil
memegang sebuah foto anakku kembali mengulang pertanyaannya tadi.
“ ini om Agi kan Yah?”
sambil menatapku.
Aku tersenyum. Zahid, anakku
yang baru berumur 5 tahun rupanya sudah mulai banyak ingin tahu, rasanya baru
kemarin ia baru bisa mengatakan “ayaaiyaa iyaaa” sambil teriak tak jelas apa
maksudnya, sekarang ia sudah sangat lancer mengucapkan huruf R yang kata ibuku
tak bisa kulakukan sampai umur 7 tahun. Zahid akan lebih pintar dariku ucapku
dalam hati dan mengamininya.
“iya, ini om Agi sayang”
jawabku menunjuk seorang dalam foto.
sebelum ia bertanya
pertanyaan lainnya, aku mencoba bertanya padanya terlebih dahulu.
“Zahid tahu ini om siapa
namanya?” tanyaku menunjuk seseorang dalam foto yang sama.
Ia mendekatkan foto tersebut
ke wajahnya, mencoba mencari tahu jawaban dari pertanyaanku, wajahnya terlihat
sangat serius seperti ingin bisa menjawab pertanyaanku,
“ siapa yah?” ia balik
bertanya.
“ini om Rahman, ayahnya
Ardit, ingat?”
“Ardit yang kemarin ulang
tahun yah?” matanya membulat.
Istriku yang sedari tadi
seperti tidak memperhatikan tersenyum mendengar jawaban anak kami, jawabannya
benar, ia rupanya ingat dengan Ardit yang
tiga minggu lalu berulang tahun.
Aku mencoba bertanya satu
hal lagi pada Zahid, masih memegang lembar foto yang sama.
“kalau ini siapa nak?”
tanyaku.
Aku sudah yakin ia bisa
menjawab pertanyaan ini. Aku menunjuk foto muda Zain sahabatku yang sangat
sering datang dan bertemu di TK Zahid, anakku dan Anak Zain, Rian. bersekolah di TK yang sama.
“ini om Zain yah, ayahnya
Rian.” Jawabnya sesuai dugaanku.
“Rian nakal yah kalau di sekolah”
katanya tiba-tiba sambil melihatku.
Aku menatapnya dengan muka
penasaran, istriku juga menoleh ke arahnya.
“kemarin Rian narikin
kursinya ida pas ida mau duduk, terus jatuh terus nangis yah Ida-nya, kasian”.
Ceritanya melanjutkan pernyataan sebelumnya.
Aku menoleh ke arah istriku
yang juga menoleh ke arahku, ia tersenyum mendengar cerita Zahid, aku juga
tersenyum, Zahid masih melihatku dengan tatapan kasihannya pada ida.
“zahid gak boleh begitu ya
!” aku menasihatinya.
Hatiku masih tersenyum
mendengar cerita Zahid tadi, tapi aku menahannya saat memberikannya nasihat
tadi.
Aku mencoba mengalihkan
pembahasan tentang rian dengan menunjuk seseorang lagi dalam foto.
”ini siapa nak?” tanyaku.
Ia kembali mendekatkan foto
tersebut melihat lebih jelas orang yang kutunjuk dalam foto.
“gak tau yah!”jawabnya
pasrah.
“ini Ustad Andre, yang
kemarin ceramah di masjid kita, beliau teman sekelas ayah dulu pas sekolah”
“sungguh yah?” tanyanya
dengan nada yang lebih tinggi. Aku mengiyakan.
“ayah kenapa gak salaman sama
ustad itu kemarin?”. “ semua orang rebutan untuk bersalam dengan ustad siapa
namanya yah?”.
“ ustad Andre.” Jawabku.
“iya, kenapa Yah?”
Istriku kembali menoleh,
kali ini tidak dengan senyuman, wajahnya bingung sekaligus heran dengan
pertanyaan yang baru saja dilontarkan anak umur 5 tahun. Zahid menatapku
menunggu jawaban, aku menatap istriku dengan wajah seperti meminta bantuan “
tolong jawab pertanyaan ini untukku”.
Sepertinya aku baru saja
menunjuk orang yang salah untuk mengalihkan pembahasan tentang Rian tadi.
“kemarin karena terlalu
ramai nak, ayah bisa bertemu dengan ustad andre kapan saja, tak harus saat
beliau ceramah di masjid kampong kita”. Aku menjawab pertanyaan Zahid sambil
mencoba untuk tetap tenang.
Itu adalah jawaban yang
benar dan sangat logis, Zahid pasti mengerti dengan jawabanku, tapi sebenarnya
ada jawaban lain dalam hatiku yang tak bisa kujelaskan pada Zahid.
“Zahid, sudah jam 9 malam, sama ibu’ yuk
tidur”. “ibu bacain buku dongeng”.
Istriku bangun dari duduknya
mengadahkan tangannya pada Zahid ingin menggendongnya. Dengan mata berbinar,
Zahid langsung turun dari pangkuanku menuju pelukan ibunya, sepersekian detik
ia sepertinya lupa dengan pertanyaannya tadi. Istriku berhasil membantu
mengalihkan perhatiannya. Syukurlah.
“dongeng apa bu?” tanyanya
dengan antusias saat sudah berada di gendongan ibunya.
Aku melihatnya menjauh di
gendongan istriku dan masuk ke kamar tidurnya.
Zahid memang sangat suka
mendengar cerita-cerita yang dibawakan ibunya, istriku juga suka dan pandai
berdongeng untuk Zahid, itulah kenapa ia langsung bersemangat saat ibunnya
mengajaknya untuk mendengar dongeng.
Aku kembali melanjutkan
pekerjaanku yang sempat tertunda, mengecek email dari mahasiswa-mahasiwa. Tapi
kali ini aku kurang bisa untuk fokus dan masih terbayang pertanyaan Zahid tadi.
Aku segera menutup laptop dan menuju kamar mandi mengambil air wudhu dan
langsung menuju kamar tidurku.
“buah jatuh tak jauh dari
pohonnya” kata istriku tiba-tiba saat masuk kamar melihatku melamun menatap
langit-langit kamar.
Aku tersenyum, ia mendekat
dengan tersenyum juga.
”Zahid sudah tidur?” Tanyaku
saat ia merebahkan tubuhnya di
sampingku.
“sudah terbawa mimpi ketemu Sultan Mehmed
konstatinopel” jawabnya masih dengan tersenyum.
Kok bisa ya Rian seperti itu
ya? Mirip bapaknya sepertinya.”
Aku tertawa mendengar
pertanyaan itu, pertanyaan yang muncul karena cerita Zahid tadi.
“kau sendiri yang bilang,
buah jatuh tak jauh dari pohonnya” jawabku.
Lampu kamar sudah padam, suasana
rumah juga sudah sepi, aku masih menatap langit-langit kamar dalam gelap. Hari
ini Zahid membawaku jauh terbang ke masa lalu, bernostalgia karena selembar
foto.foto yang sudah lama tak kulihat. 24 anak berseragam, berjas, berdasi dan
bertopi. Wajah-wajah mereka sangat tak asing dan ku kenal dengan baik, aku
salah satu diantara ke 24 orang tersebut.
Wajah kami dalam foto tersebut terlihat sangat bahagia, semuanya
tersenyum lebar.
Foto itu di ambil 14 tahun yang lalu saat kami
baru saja dinyatakan lulus dari 6 tahun belajar di sebuah pesantren, itulah
mengapa wajah kami semua tersenyum lebar bahagia, karena 6 tahun bukanlah waktu
yang singkat, dan 6 tahun tersebut membawa sejuta cerita untuk dikenang.
Aku terbawa ke masa itu sambil
mencoba untuk memejakan mata, sejuta cerita yang tak pernah sedetikpun
kulapakan selama ini, sejuta cerita yang menjadikanku seperti aku sekarang,
sejuta cerita yang tak sabar aku ceritakan pada anakku. Zahid. (bersambung)
Komentar
Posting Komentar