Salah satu alasan kenapa saya menamakan blog ini 'Bodoh' adalah selain karena saya yang terlalu jenius cenderung ke begok, juga karena saya sering menceritakan hal hal bodoh yang gak penting dan di anggap tabu di tengah masyarakat kemudian dikupas secara tajam setajam silet karatan.
Jika sebelumnya saya menceritakan tentang bodohnya rencana kabur kami, sekarang saya ingin menceritakan salah satu dari ribuan hal bodoh yang saya dan sahabat sahabat saya kerjakan, entah apa yang mendorong saya membuat ini, yang jelas saya hanya ingin berbagi cerita melalui tulisan bodoh.
Saat itu saya dan sahabat-sahabat saya adalah santri akhir di Al-Bayan, santri paling senior dan paling banyak makan asam garam pondok. Sudah menjadi kewajiban bagi santri akhir untuk bertanggung jawab terhadap pondok dan adik adik kelas mereka, salah satu bentuk tanggung jawab itu adalah Muqim.
Muqim adalah istilah untuk mereka yang yang tetap tinggal di pondok dan menjaga pondok saat santri-santri lainnya mengambil hak liburan, biasanya dilakukan oleh kelas enam dan beberapa ustadz sebagai pendamping, itulah kenapa kelas enam sudah tidak mengenal lagi yang namanya liburan.
Saat itu bulan januari tahun 2012, itu adalah Muqim terakhir kita, karena sebelumnya kita sudah muqim dua kali, saat liburan awal tahun dan libur bulan ramadhan, bagi kelas lima itu merupakan libur terakhir mereka. ratusan santri sudah pulang ke rumah masing-masing untuk liburan nisfus sanah, dan kami harus tetap tinggal sebagai bentuk tanggung jawab, walaupun tak bisa di pungkiri kalau ada rasa keterpaksaan di hati kami, santri mana yang gak mau pulang ketemu keluarga?
Muqim bagi kami ada suka dan duka menjalaninya, sukanya seperti kami untuk sementara rehat mengurus santri santri nakal yang memusingkan, atau kami tak perlu lagi antre panjang untuk mandi karena banyak kamar mandi yang ditinggalkan pemakainya, gak antre makan lagi dan lainnya, Dukanya yaaaa tugas tugas santri lain membersihkan lingkungan pondok harus kami yang ambil alih, halaman luas yang biasanya dibersihkan belasan anak, saat Muqim kita harus mengerjakan sendiri, 7 hektar kawasan pesantren dibersihkan 24 santri saja. Melelahkan. Ada banyak hal terjadi pada muqim muqim kami sebelumnya, akan saya ceritakan suatu saat, insyaallah.
Namun hal itu tak seberapa, duka terbesar saat itu adalah karena di tengah-tengah muqim yang sepuluh hari akan di adakan Ujian Niha'i . Ujian Niha'i artinya Ujian Akhir, itu ujian terakhir setelah puluhan kali ujian selama 6 tahun.
Yang membuat ujian ini menakutkan selain karena akan menentukan kelulusan kami di pondok, juga karenaNiha'i mengujikan semua yang sudah kita pelajari dari kelas satu hingga kelas enam untuk semua pelajaran, biar lebih dramatis saya ingin mengulangi sekali lagi, "MENGUJIKAN SEMUA PELAJARAN DARI KELAS SATU SAMPAI KELAS ENAM, SEMUA PELAJARAN". Deng dong deng dong.
Pondok Al-Bayan tak pernah mementingkan hasil ujian Nasional dari pemerintah, kami juga gak pernah ambil pusing untuk UN ini, bagi pondok, UN hanya sekedar legalitas saja sebagai sekolah atau madrasah, bahkan pimpinan pondok sudah sejak lama ingin membuat pondok kita terbebas dari "setan" UN. (Begitu beliau sering berkata).
Mau lulus ataupun tidak lulus di UN gak akan berpengaruh pada kelulusan kami dari pondok, sebaliknya dengan "UN-nya" pondok (Ujian Niha'i), mau sebagus apapun hasil UN ini, kalau hasil ujian Niha'i anjlok, tamatlah kita.
Saya dan teman-teman lain sudah mempersiapkan diri untuk Ujian Niha'i ini, mulai dari mencari kitab-kitab dulu yang masih tersisa sampai pinjam kitab dari adik adik kelas sebelum mereka pulang, sampai saharul layal untuk belajar beberapa minggu sebelum ujian, yang jelas tujuan utama kami saat itu cuma fokus pada ujian Niha'i.
Ujian kami diagendakan selama seminggu, sampai akhirnya masuklah kami di tanggal di tetapkannya ujian. Untuk diketahui, Ujian Niha'i mengujikan banyak sekali soal untuk satu pelajarannya, dan tentu saja tak menggunakan pilihan berganda seperti "setan" UN, alias semuanya esai. Tak heran kalau kita harus menghabiskan tiga sampai empat lebar kertas HVS berukuran A4 untuk menjawab semua soal dalam hanya satu pelajaran, selain itu kita juga harus berjuang melawan waktu agar lembar jawaban terisi, walaupun dalam hal ini sangat sulit untuk dilakukan.
Setelah tiga hari kami susah payah berjuang untuk Ujian Niha'i , ternyata ujian selanjutnya harus ditunda beberapa hari, pimpinan pondok dan guru guru akan berkunjung ke ujung barat pulau Lombok, tepatnya Bangko-Bangko, salah satu tempat wisata pantai paling indah di Lombok, juga daerah dimana salah satu guru dan pengawas kami berasal, kunjungan itu rencananya diadakan selama dua hari, entah untuk tujuan apa, yang jelas saat itu ujian harus di undur selama dua hari.
Syukurlah, paling tidak kami dapat waktu untuk mengistirahatkan kerja otak.
Singkat cerita berangkatlah pimpinan pondok dan guru guru, hanya tinggal kami yang ada di pondok, dengan salah satu ustad pendamping, namun ustad pendamping kami tinggal di luar pondok meski masih di tanah milik pondok.
Disinilah kebodohan kami terlihat, Sudah menjadi tradisi pondok dua bulan sebelum ujian diadakan maka kegiatan olahraga dilarang, kecuali hari jumat. Semakin mendekati ujian atau biasanya dua minggu sebelumnya olahraga hari jumat pun dilarang, kecuali lari pagi berkelompok yang kadang juga terpaksa dilakukan.
Begitu pula kami, dua bulan sebelum Ujian Niha'i , kami sudah tidak lagi bermain bola atau olahraga lainnya, padahal sebagian besar dari kami adalah maniak sepak bola. Sudah lebih dua bulan sepatu sepatu bola kami tergantung atau sekedar tergeletak di rak tak pernah tersentuh, mungkin ada beberapa sepatu yang sudah menjadi tempat tinggal serangga.
Hal itu mungkin membuat kami melakukan aksi brutal, di sore pertama kepergian pimpinan pondok dan guru-guru, kami nakal mencuri waktu untuk bermain bola, Ujian Niha'i seperti sudah tidak ada lagi dalam pikiran, yang penting dapat main bola, cukup.
Seolah tak puas dengan main bola kemarin tak hanya di sore pertama, di sore keduapun saya dan sebagian besar teman masih nekad terjun ke lapangan main bola lagi, di sore kedua kita bermain di lapangan yang lebih kecil dan letaknya agak jauh dari jalan masuk pondok, dengan niat jika saja bus yang membawa rombongan guru guru terlihat memasuki area pondok, kita masih bisa menyelamatkan diri agar tak terlihat. Terlihat memang bagaimana kami sadar bahwa apa yang kerjakan saat itu adalah sebuah larangan. Namun sore kedua aman dan terkendali. Rombongan guru tiba di pondok sekitar ba'da solat isya'.
Rehat dua hari selesai, saatnya bertarung kembali dengan kitab kitab lama.
Esok harinya semua berjalan normal seperti biasanya, ujian yang dilanjutkan pun masih menyulitkan seperti biasanya, tak ada tanda-tanda akan terjadi peristiwa besar atau apa di hari itu, dan kita masih tetap tenang di tengah kepusingan ujian.
Sampai ba'da ashar, pimpinan pondok atau yang kami sering sebut mudir mulai menanyakan sesuatu, tak lain adalah pelanggaran kami di dua hari sebelumnya saat beliau pergi, entah beliau tau dari siapa dan bagaimana cara beliau mengetahuinya kami sudah tak bisa mengelak dari kesalahan lagi. Beliau marah besar, terlihat jelas raut kecewa di wajah beliau, dan kami hanya bisa diam tak bisa berkata apa apa lagi.
Setelah kami mengganti pakaian dengan pakaian olahraga, beliau cukup berbaik hati tidak memberikan kami hukuman, beliau bahkan langsung memberikan jatah olahraga yang dua bulan sebelumnya tidak kami dapat. Kami diperintahkan untuk melatih pernapasan dengan melakukan push up bersama-sama, juga sit up bersama-sama. Setelah melakukan gerakan gerakan beberapa menit ternyata itu hanya pemanasan saja, olahraga yang sesungguhnya ingin beliau beri adalah lari, lari mengitari lapangan, tak tanggung-tanggung, beliau memerintahkan kami lari keliling lapangan sebanyak 20 kali putaran, saya dan mungkin semuanya tak pernah melakukannya sebelumnya, jadi itu mungkin menjadi yang pertama kalinya bagi kami.
Saya menyebutnya 20 putaran kesadaran, karena 20 putaran tersebut tentu bermaksud menyadarkan kami dari apa yang kami perbuat, menyadarkan kami atas resiko segala sesuatu yang melanggar aturan, meskipun saya menjadi satu-satunya yang tak bisa menyelesaikan semua 20 putaran. Di putaran ke 13 saya mengalami gejala teknis berupa kram pada kaki, saya tertidur di salah satu ujung lapangan dan mulai melanjutkan putaran pada saat yang lain menyisakan 2 putaran.
Melihat para santri berlari mengitari lapangan bukanlah hal langka di Al-Bayan, namun melihat satu kelas lari 20 putaran tentu saja langka, dan mungkin masih menjadi rekor untuk saat ini.
Oiya, dari 24 teman sekelas saya, sebenarnya tak semua ikut lari 20 putaran kesadaran, kami hanya ber-19, sisanya 5 orang memang tidak patut dihukum karena tak ikut main bola bersama kami saat itu, entah karena mereka sudah sadar atau ada faktor lain. Saya ingin membahas 4 orang teman saya ini satu persatu, agar kalian yang baca tau mengerti, apakah mereka sadar atau lainnya.
Yang pertama ada namanya Muhammad Hajiji, tinggi, kurus, berkaca mata, jenggotan, hobi nyanyi dan jatuh cinta.
Jika sebelumnya saya menceritakan tentang bodohnya rencana kabur kami, sekarang saya ingin menceritakan salah satu dari ribuan hal bodoh yang saya dan sahabat sahabat saya kerjakan, entah apa yang mendorong saya membuat ini, yang jelas saya hanya ingin berbagi cerita melalui tulisan bodoh.
Saat itu saya dan sahabat-sahabat saya adalah santri akhir di Al-Bayan, santri paling senior dan paling banyak makan asam garam pondok. Sudah menjadi kewajiban bagi santri akhir untuk bertanggung jawab terhadap pondok dan adik adik kelas mereka, salah satu bentuk tanggung jawab itu adalah Muqim.
Muqim adalah istilah untuk mereka yang yang tetap tinggal di pondok dan menjaga pondok saat santri-santri lainnya mengambil hak liburan, biasanya dilakukan oleh kelas enam dan beberapa ustadz sebagai pendamping, itulah kenapa kelas enam sudah tidak mengenal lagi yang namanya liburan.
Saat itu bulan januari tahun 2012, itu adalah Muqim terakhir kita, karena sebelumnya kita sudah muqim dua kali, saat liburan awal tahun dan libur bulan ramadhan, bagi kelas lima itu merupakan libur terakhir mereka. ratusan santri sudah pulang ke rumah masing-masing untuk liburan nisfus sanah, dan kami harus tetap tinggal sebagai bentuk tanggung jawab, walaupun tak bisa di pungkiri kalau ada rasa keterpaksaan di hati kami, santri mana yang gak mau pulang ketemu keluarga?
Muqim bagi kami ada suka dan duka menjalaninya, sukanya seperti kami untuk sementara rehat mengurus santri santri nakal yang memusingkan, atau kami tak perlu lagi antre panjang untuk mandi karena banyak kamar mandi yang ditinggalkan pemakainya, gak antre makan lagi dan lainnya, Dukanya yaaaa tugas tugas santri lain membersihkan lingkungan pondok harus kami yang ambil alih, halaman luas yang biasanya dibersihkan belasan anak, saat Muqim kita harus mengerjakan sendiri, 7 hektar kawasan pesantren dibersihkan 24 santri saja. Melelahkan. Ada banyak hal terjadi pada muqim muqim kami sebelumnya, akan saya ceritakan suatu saat, insyaallah.
Namun hal itu tak seberapa, duka terbesar saat itu adalah karena di tengah-tengah muqim yang sepuluh hari akan di adakan Ujian Niha'i . Ujian Niha'i artinya Ujian Akhir, itu ujian terakhir setelah puluhan kali ujian selama 6 tahun.
Yang membuat ujian ini menakutkan selain karena akan menentukan kelulusan kami di pondok, juga karenaNiha'i mengujikan semua yang sudah kita pelajari dari kelas satu hingga kelas enam untuk semua pelajaran, biar lebih dramatis saya ingin mengulangi sekali lagi, "MENGUJIKAN SEMUA PELAJARAN DARI KELAS SATU SAMPAI KELAS ENAM, SEMUA PELAJARAN". Deng dong deng dong.
Pondok Al-Bayan tak pernah mementingkan hasil ujian Nasional dari pemerintah, kami juga gak pernah ambil pusing untuk UN ini, bagi pondok, UN hanya sekedar legalitas saja sebagai sekolah atau madrasah, bahkan pimpinan pondok sudah sejak lama ingin membuat pondok kita terbebas dari "setan" UN. (Begitu beliau sering berkata).
Mau lulus ataupun tidak lulus di UN gak akan berpengaruh pada kelulusan kami dari pondok, sebaliknya dengan "UN-nya" pondok (Ujian Niha'i), mau sebagus apapun hasil UN ini, kalau hasil ujian Niha'i anjlok, tamatlah kita.
Saya dan teman-teman lain sudah mempersiapkan diri untuk Ujian Niha'i ini, mulai dari mencari kitab-kitab dulu yang masih tersisa sampai pinjam kitab dari adik adik kelas sebelum mereka pulang, sampai saharul layal untuk belajar beberapa minggu sebelum ujian, yang jelas tujuan utama kami saat itu cuma fokus pada ujian Niha'i.
Ujian kami diagendakan selama seminggu, sampai akhirnya masuklah kami di tanggal di tetapkannya ujian. Untuk diketahui, Ujian Niha'i mengujikan banyak sekali soal untuk satu pelajarannya, dan tentu saja tak menggunakan pilihan berganda seperti "setan" UN, alias semuanya esai. Tak heran kalau kita harus menghabiskan tiga sampai empat lebar kertas HVS berukuran A4 untuk menjawab semua soal dalam hanya satu pelajaran, selain itu kita juga harus berjuang melawan waktu agar lembar jawaban terisi, walaupun dalam hal ini sangat sulit untuk dilakukan.
Setelah tiga hari kami susah payah berjuang untuk Ujian Niha'i , ternyata ujian selanjutnya harus ditunda beberapa hari, pimpinan pondok dan guru guru akan berkunjung ke ujung barat pulau Lombok, tepatnya Bangko-Bangko, salah satu tempat wisata pantai paling indah di Lombok, juga daerah dimana salah satu guru dan pengawas kami berasal, kunjungan itu rencananya diadakan selama dua hari, entah untuk tujuan apa, yang jelas saat itu ujian harus di undur selama dua hari.
Syukurlah, paling tidak kami dapat waktu untuk mengistirahatkan kerja otak.
Singkat cerita berangkatlah pimpinan pondok dan guru guru, hanya tinggal kami yang ada di pondok, dengan salah satu ustad pendamping, namun ustad pendamping kami tinggal di luar pondok meski masih di tanah milik pondok.
Disinilah kebodohan kami terlihat, Sudah menjadi tradisi pondok dua bulan sebelum ujian diadakan maka kegiatan olahraga dilarang, kecuali hari jumat. Semakin mendekati ujian atau biasanya dua minggu sebelumnya olahraga hari jumat pun dilarang, kecuali lari pagi berkelompok yang kadang juga terpaksa dilakukan.
Begitu pula kami, dua bulan sebelum Ujian Niha'i , kami sudah tidak lagi bermain bola atau olahraga lainnya, padahal sebagian besar dari kami adalah maniak sepak bola. Sudah lebih dua bulan sepatu sepatu bola kami tergantung atau sekedar tergeletak di rak tak pernah tersentuh, mungkin ada beberapa sepatu yang sudah menjadi tempat tinggal serangga.
Hal itu mungkin membuat kami melakukan aksi brutal, di sore pertama kepergian pimpinan pondok dan guru-guru, kami nakal mencuri waktu untuk bermain bola, Ujian Niha'i seperti sudah tidak ada lagi dalam pikiran, yang penting dapat main bola, cukup.
Seolah tak puas dengan main bola kemarin tak hanya di sore pertama, di sore keduapun saya dan sebagian besar teman masih nekad terjun ke lapangan main bola lagi, di sore kedua kita bermain di lapangan yang lebih kecil dan letaknya agak jauh dari jalan masuk pondok, dengan niat jika saja bus yang membawa rombongan guru guru terlihat memasuki area pondok, kita masih bisa menyelamatkan diri agar tak terlihat. Terlihat memang bagaimana kami sadar bahwa apa yang kerjakan saat itu adalah sebuah larangan. Namun sore kedua aman dan terkendali. Rombongan guru tiba di pondok sekitar ba'da solat isya'.
Rehat dua hari selesai, saatnya bertarung kembali dengan kitab kitab lama.
Esok harinya semua berjalan normal seperti biasanya, ujian yang dilanjutkan pun masih menyulitkan seperti biasanya, tak ada tanda-tanda akan terjadi peristiwa besar atau apa di hari itu, dan kita masih tetap tenang di tengah kepusingan ujian.
Sampai ba'da ashar, pimpinan pondok atau yang kami sering sebut mudir mulai menanyakan sesuatu, tak lain adalah pelanggaran kami di dua hari sebelumnya saat beliau pergi, entah beliau tau dari siapa dan bagaimana cara beliau mengetahuinya kami sudah tak bisa mengelak dari kesalahan lagi. Beliau marah besar, terlihat jelas raut kecewa di wajah beliau, dan kami hanya bisa diam tak bisa berkata apa apa lagi.
Setelah kami mengganti pakaian dengan pakaian olahraga, beliau cukup berbaik hati tidak memberikan kami hukuman, beliau bahkan langsung memberikan jatah olahraga yang dua bulan sebelumnya tidak kami dapat. Kami diperintahkan untuk melatih pernapasan dengan melakukan push up bersama-sama, juga sit up bersama-sama. Setelah melakukan gerakan gerakan beberapa menit ternyata itu hanya pemanasan saja, olahraga yang sesungguhnya ingin beliau beri adalah lari, lari mengitari lapangan, tak tanggung-tanggung, beliau memerintahkan kami lari keliling lapangan sebanyak 20 kali putaran, saya dan mungkin semuanya tak pernah melakukannya sebelumnya, jadi itu mungkin menjadi yang pertama kalinya bagi kami.
Saya menyebutnya 20 putaran kesadaran, karena 20 putaran tersebut tentu bermaksud menyadarkan kami dari apa yang kami perbuat, menyadarkan kami atas resiko segala sesuatu yang melanggar aturan, meskipun saya menjadi satu-satunya yang tak bisa menyelesaikan semua 20 putaran. Di putaran ke 13 saya mengalami gejala teknis berupa kram pada kaki, saya tertidur di salah satu ujung lapangan dan mulai melanjutkan putaran pada saat yang lain menyisakan 2 putaran.
Melihat para santri berlari mengitari lapangan bukanlah hal langka di Al-Bayan, namun melihat satu kelas lari 20 putaran tentu saja langka, dan mungkin masih menjadi rekor untuk saat ini.
Oiya, dari 24 teman sekelas saya, sebenarnya tak semua ikut lari 20 putaran kesadaran, kami hanya ber-19, sisanya 5 orang memang tidak patut dihukum karena tak ikut main bola bersama kami saat itu, entah karena mereka sudah sadar atau ada faktor lain. Saya ingin membahas 4 orang teman saya ini satu persatu, agar kalian yang baca tau mengerti, apakah mereka sadar atau lainnya.
Yang pertama ada namanya Muhammad Hajiji, tinggi, kurus, berkaca mata, jenggotan, hobi nyanyi dan jatuh cinta.
dia adalah satu-satunya anak berkaca mata di kelas kami, Beberapa teman perempuan kami kadang masuk kelas berkaca mata tapi untuk sekedar gaya, sedangkan hajiji karena memang matanya minus. Konon katanya, matanya minus karena keseringan main game Ps bola. Di dunia virtual mungkin dia hebat, tapi di lapangan nyata kinerjanya sangat buruk untuk bermain bola, pengaruh mata dan ketidak seimbangan badannya, dia juga susah berkonsentrasi, pikirannya terbagi kepada wanita idamannya.
Kemudian ada Adi Suryadi, teman saya yang satu ini beratnya saya perkirakan 100 kg lebih, tubuhnya tinggi tapi gendutnya kelebihan, mungkin seperti hasil kawin silang gajah dengan jerapah, atau hanya jerapah obesitas, atau gajah jangkung? Entahlah. Dia gak suka olahraga, sekali kali main bola tiga anak mental 10 meter kena bodinya. Sekarang saya lebih senang menyebut di PO, dragon warior di film animasi kungfu Panda. Karena memang mirip.
Yang ketiga ada kebalikannya Adi, Muhammad ihsan Sopiandi, dia gendut seperti adi tapi pendek dan cenderung pendek sekali untuk ukuran santri kelas 6, urusan olahraga jangan tanyakan dia, saya pernah memaksa dia main basket, tapi lebih terlihat seperti dua bola basket mantul mantul. Wajahnya imut imut menggemaskan, baby face istilah orang, wajahnya lebih nampak anak SD daripada anak kelas 6.
Sama seperti adi, Ihsan bisa juga di panggil PO, PO si Teletubies merah tanpa layar TV di perut.
yang keempat namanya Sopian Hadi, atau lebih dijuluki King-kong, badannya besar, seperti King-Kong, bukan karena badannya ia dijuluki King Kong, tapi karena dia orang yang pelit senyum, dan
lebih sering bermuka masam masam sekali, kalau sudah begitu, king kong yang di film milik peter jackson pun takut, apalagi kita manusia biasa.
Dulu, sopian sering menjadi kiper tangguh di gawang tim kelas kami, lama lama semakin bertambah usianya posisinya harus digeser oleh irsyad, pelatih tim kelas kami lebih memilih kiper yang bisa terbang seperti irsyad daripada sopian yang hanya bisa loncat loncat, setelah itu gaungnya tak terlihat lagi didunia perkiperan pesantren, jejaknya seperti hilang di lapangan, mungkin dia memilih gantung sarung tangan lebih awal.
Yang terakhir, salah satu teman terbaik saya, Hairul Anas. Saya bingung bagaimana menceritakan teman saya ini, yang pasti dia sangat tidak cocok dalam urusan olahraga, kecuali badminton, jangan mengajak dia bermain bola kalau gak mau melihat tengkorak hidul berjalan. Kalau ada pelatih bola yang mau mengajarkannya, saya rasa dia harus dilatih cara berlari yang benar terlebih dahulu, agar tidak terlihat seperti pohon layu.
Dari 4 teman saya yang tidak terkena hukuman, saya rasa kalian sudah punya kesimpulan kenapa. Dan simpan kesimpulan kalian masing-masing.
Setelah kejadian itu bisa konsentrasi lagi pada Ujian Niha'i, karena dosa kami terasa sudah sedikit ditebus. Dan Alhamdulillah, saya dan semua teman sekelas lulus di ujian Niha'i ini dan tamat bersama.
Tamat
*nisfus sanah : pertengahan tahun
*Saharul Layal : (bahasa arab) artinya tidak tidur pada malam hari untuk beribadah atau hal baik lainnya.
*Mudir : pimpinan pondok pesantren
Komentar
Posting Komentar