2 januari 2013
Aku salah, apa yang kuharapkan di hari pertama tahun 2013 kemarin tak sesuai harapannya, tapi begitulah kurasa hidup, kemarin bisa tersenyum bahagia, sekarang bermurung durja.
Pagi-pagi sekali aku telah terbangun dari tidur, bangun dengan doa yang sama tiap harinya, berharap hari ini berjalan baik-baik saja, berharap kebahagiaan menyertaiku hari ini.
Seperti biasa, pagi-pagi aku selalu menyempatkan diri untuk membantu orang tuaku, sekedar menyapu rumah atau menyiram halaman dan bunga-bunga di rumah, kegiatan ini sudah menjadi kebiasaanku di rumah, kami berbagi tugas masing, mama sudah bergelut dengan sahabat-sahabat dapurnya, bapak biasanya akan menyapu rumah, sedangkan aku menyapu halaman rumah dan membuang sampah, kakakku sangat jarang berada di rumah, walaupun dia ada, dia takkan berada di tengah-tengah pekerjaan ini semua, sedangkan adik kecilku pagi-pagi seperti ini akan sangat sibuk bersama ayam-ayam dan burung-burungnya, dia memang pencinta binatang, tiap pagi membersihkan kandang dan memberikan makanan untuk mereka sebelum siap-siap ke sekolahnya.
Semua pekerjaan selesai, aku biasa duduk di berugak depan rumah bersama handphone ku.
Semua harapan itu hilang bersama mulai hilangnya embun di dedaunan, semua doa pagiku tak terdengar bersama mulai tak terdengarnya suara kokok ayam ayam adikku.
Pesan singkat masuk ke hp ku, dari seseorang yang kuharap akan menjadi sumber kebahagiaanku, sebuah pesan singkat yang membuang jauh harapan harapan itu, sangat singkat tapi jelas bermakna dalam
Aku tak mengingat bagaimana pesan itu berawal, yang aku ingat pengirim tersebut sedang tidak dalam suasana hati yang baik.
Sudah setahun kira-kira aku menjalin hubungan dengan seseorang, hubungan dalam konteks anak-anak muda, dan tak ku pungkiri setahun itu pula aku banyak berbuat kesalahan, aku merasa sering menyakiti hatinya, sering membuatnya sakit hati, kesal, dan jengkel kepadaku, tapi aku bingung bagaimana mungkin dia masih bisa mempertahankan hubungan ini selama setahun, padahal aku merasakan sendiri bagaimana sakit hatinya, karena memang akulah yang mengakitinya.
Aku mencintainya, itulah sebabnya aku tak pernah sanggup melihatnya tersakiti, tapi bodohnya aku sendiri yang selalu menyakitinya, tantu bukan karena suatu kesengajaan.
Pagi itu, aku tak sanggup mengetahuinya tersakiti lagi, aku tak sanggup melihatnya menangis lagi.
Pesan singkat itu mengatakan betala seringnya dia menangis karena aku, betapa seringnya dia terluka karena aku, betapa seringnya dia memikirkan diriku yang hanya membuatnya ingin menangis karena aku.
Aku takkan bisa melihatnya seperti itu, ku balas pesan singkat itu,
Ku sampaikan semua yang tak sanggu ku lihat padanya, ku sampaikan kalau aku tak ingin membuatnya terluka lagi, tak ingin membuatnya menangis karena aku lagi hingga kuputuskan semua seketika itu.
Mungkin aneh, tapi aku cowok yang saat itu menangis karena hal ini, aku cowok yang pada saat itu di tertawai burung-burung dengan siulannya karena tangisanku.
Air mata mulai menetes timbul tetes demi tetes dari mataku dan mengalir dari pipiku, dan di setiap tetes itu pula aku melihat samar-samar sesuatu yang mengahuskan harapan kebahagiaan tadi, setial tetes itu aku melihat samar-samar sesuatu yang sangat menyakitkan.
Di tetes air mata itulah, aku melihat samar- samar sebuah kata terbentuk jelas, bermakna jelas.
Di tetes air mata itulah samar samar terlihat kata itu, Putus.
Setelah itu aku tak pernah behubungan dengannya, ku tutup hari kedua dengan air mata, dan selalu berharap hal ini adalah yang terakhir kalinya terjadi di tahun ini.
Komentar
Posting Komentar