
Dari judulnya, saya gak mau bahas soal film.. walaupun judulnya sama seperti judul film yang dibintangi salah dua aktor action favorit sya, Sylvester Stallone dan Arnold Schwarzenegger (bener gak tulisannya? ). Walaupun ceritanya sama tentang kabur kaburan, tapi ini berbeda langit bumi sama "Escape"-nya Stallone dan Arnold, oiya ngomong ngomong itu film Escape keren juga loh.. simple tapi.keren.. lho kok ngomong film -,-
Ini cerita saat saya masih kelas 5 (II aliyah) di pesantren saya dulu, seperti biasanya sebuah pesantren, peraturan dan disiplin haruslah ditegakkan dengan ketat..
Suatu malam, seorang ustad pergi mengontrol para santri yang sedang belajar, dengan mengayuh sepeda ontel tuanya mengelilingi kamar kamar santri seperti pak Oemar Bakri yang mau pergi ke sekolah, walaupun ustad ini gak pake tas kulit buaya..dan gak mau ke sekolah tentunya. sekian kamar terlewati, anak anak yang yang tadinya lesu kayak ikan asin dijemur 6 bulan kini semangat 45 saat ustad tersebut lewat, lebih tepatnya pura pura semangat, saat ustad mulai jauh... lesu lagi.
Hampir di ujung kawasan pesantren, ustad X berhenti di depan sebuah kamar kecil, kamar ini memang sangat kecil diantara sekian banyak kamar yang ada, selain itu kamar berukuran kira kira 3 x 3m ini juga menyendiri di pojok pesantren karena memang diperuntukkan untuk 3 orang petugas pengendali Air saja.
Tak seperti melewati kamar lainnya, ustad x turun dari sepedanya dan memarkir pas di depan kamar tersebut, seperti orang tergesa gesa Ia tanpa mengetuk pintu atau memencet bel (memang gak ada bel) ia langsung membukanya dan tentu masuk.
Saat itu aku dan teman teman sedang semangat (pura-pura) belajar didepan kamar yang posisinya sekitar 10 meter dari kamar kecil tadi, kami melihat ustad x turun didepan kamar tapi gak tau apa yang dilakukannya didalam, semua berjalan biasa dan kami juga tak peduli. Kami masih melanjutkan pura pura belajar kami hingga Ontel tua Ustad x tidak terparkir lagi, itu artinya ustad x telah pergi dan kami lanjut dengan kegiatan kami ( bukan belajar tentunya :D )
"TENG TENG TENG".. suara bel besar pesantren kami menggema dan menyebar ke seluruh penghujung pesantren, itu artinya sudah jam 10 malam dan kami boleh berhenti belajar dan dipersilahkan untuk tidur. Saat beberapa dari kami sudah mulai menyiapkan kasur kasur kaki, terdengar suara tiba tiba tanpa sosok memanggil
" yaaa ayyuha s soffu ssadis wal khomis.... lakum ijtimaa' amama binaa'i samaroo' haalaan...!!!"
Kira kira artinya "woeee kelas 5 kelas enaaamm... kumpuuulll!!!!" ..
"Huhh" "aiii" "eeee" "tolooon" kira kira begitu suara sebagian kami menggerutu, kumpul memang menjadi kegiatan yang paling kami benci, apalagi kalau harus mengganggu waktu istirahat kami seperti ini, tapi apa boleh buat.. perintah ustad harus dilaksanakan.
Singkatnya berkumpul lah kami di tempat yang dimaksud, didepan kamar ustad x yang tadi mengontrol, dengan wajah wajah muram dan terkesan tak senang kami berdiri berbaris didepan ustad x yang telah duduk sejak sebelum kami berkumpul. Melihat ekspresi wajahnya, sepertinya ustad x sedang marah, lengan baju koko panjangnya pun telah dilipat sebagian hingga sikunya, ia sering melakukan hal itu jika marah, "ada sesuatu yang salah" batinku.
Ia mulai membuka percakapan, tanpa basa basi ia mengeluarkan sebuah benda putih dan mengangkatnya, "liman Ha za??" Katanya menanyakan pemilik benda tersebut, benda tersebut adalah sebuah bungkus rokok dengan beberapa batang rokok didalamnya. Sekarang aku tahu penyebabnya mengumpulkan kami dan marah, rokok memang sangat dilarang di lingkungan pesantren, jika ada yang ketahuan melakukannya sekali saja, maka harus di cukur gundul bersih.
Sudah sekitar 30 menit kami berdiri, tapi tak ada satupun yang membuka suara menanggapi pertanyaan ustad tadi, tetap begitu sampai beberapa menit kemudian, kami hanya saling melirik satu sama lain dengan muka ngantuk dan masih masam, hingga ustad mengeluarkan pernyataan bahwa jika malam itu tak ada satu orang pun yang mau mengaku, maka semua kelas lima dan kelas enam harus dihukum cukur gundul, Semua.
Tentu saja itu bukan ancaman biasa, tapi kami masih terdiam tak tahu hingga sampai tengah malam kami pun dibubarkan.
Keesokan harinya
Sekitar jam dua siang, setelah semua santri selesai belajar di kelas masing masing, kami kembali dikumpulkan ditempat yang sama, namun kali ini ada kejadian yang lebih menarik lagi, seorang teman kami harus jadi korban, seutas kabel hitam merah harus mendarat keras di badan teman kami, satu satunya teman gendut kami yang lebih mirip Teletubies tanpa Tv di perutnya harus merasakan sengatan kabel tersebut, katanya dia dihukum karena memanggil teman temannya dengan cara yang tidak sopan, aku gak tau rasanya dipukul kabel, tapi melihat muka PO (teman gendutku yang mirip Teletubies tanpa TV di perut) itu, sepertinya memang sakit sekali, kasihan.
Siang itu kami tak berkumpul lama, karena sesuai janjinya, ustad x memerintahkan kami untuk mencukur rata kepala kami, alias botak bin gundul. Ancaman semalam ternyata benar meski banyak dari kami yang tak merasa bersalah dan tak tahu apa apa harus merasakannya pula. Kumpul ini diakhiri dengan aksi penggembosan ban sepeda ontel tua ustad X . Tentu saja ia tak mengetahuinya.
ESCAPE PLAN (rencana kabur)
Saat itulah ide gilapun muncul, entah dari siapa awalnya, kami berkumpul lagi, tapi bukan untuk saling membotakkan diri seperti diperintahkan ustad X, sebagian besar dari kami yang merasa tak bersalah tadi rupanya tak menerima hukuman ustad X, mereka pun merencanakan aksi kabur masal, disinilah bedanya, jika dalam film Escape asli, Stallone merencanakan aksi kaburnya dengan sangat matang, kami hanya sekedar merencanakan aksi kaburnya saja, tanpa ada rencana cara dan jalan kaburnya, dibenak kami hanya ada satu kata, " Yang penting Kabur" (sebenarnya 3 kata).
Singkatnya, setelah rencana dadakan ini kami rasa matang, mulailah kami beraksi, setelah kami menyiapkan tas masing masing, satu persatu kami mulai menuju kali di belakang pesantren sebagai jalur utama aksi kabur kami, satu persatu kami membawa ember berisi tas agar tak terlihat, setelah sampai di sebuah kebun sepi, kami harus menunggu yang lainnya dan berkumpul di kebun tersebut.
Karena aksi kami ini ilegal, tentu saja akan ada banyak masalah yang kami hadapi, masalah pertama adalah transportasi, karena perjalanan pulang (kabur) rumah kami membutuhkan waktu yang tak sebentar. Kami biasanya pulang menggunakan bis antar kota atau di daerah kami biasa disebut Engkel, atau lebih keren saya tulis "Ancle". Masalahnya, ancle di daerah kami hanya beroperasi sampai sekitar jam 2 siang saja, dan saat itu sudah hampir jam 4 sore. Beruntung, diantara kami ada yang rumahnya tak jauh dari area pesantren, dialah yang menawarkan solusi, ia pulang terlebih dahulu mengambil motor kemudian memanggil sopir ancle agar bersedia mengantar kami pulang, dengan dalih penumpang borongan akhirnya ancle pun datang menjemput kami, dan kami berhasil kabur.
Rumah
Aku gak tau apa yang terjadi dengan teman-temanku di rumah mereka masing masing, yang pasti di rumahku terjadi masalah, orang tuaku awalnya senang melihatku pulang, setelah aku menceritakan penyebab dan alasan kepulangan ku, justru sebaliknya, omelan lah yang kudapatkan.
Bapak ku seorang polisi yang cukup dikenal di desaku, sebagai seorang polisi pasti jiwa jiwa kedisiplinan di dalam dirinya sudah kuat, sayangnya aku tak mengikuti jiwa jiwanya saat itu, bapakku terus berkata kalau aku harus siap menerima apapun yang diperintahkan, habislah aku terdiam dan tertunduk tak berkutik seharian.
Singkatnya, keesokan harinya, kembalilah aku ke pesantren, dengan harapan berkat aksi protes berlebih kami ini sang ustad membatalkan keputusannya, sudah banyak teman teman 'sepengaburan' aku yang kembali lebih awal, dan saat itu maka kami harus menunggu keputusan final dari ustad.
Ba'da subuh keesokannya, kami dikumpulkan lagi, tentu saja kami tau ini akan menjadi keputusan akhir, dan tentu saja kemarahan sang ustad tak bisa ditanggulangi lagi, karena aksi kami memecahkan rekor aksi kabur terbanyak, setelah dimarah habis habisan, pipi kamipun harus berubah kemerahan akibat tangan sang ustad, dan keputusan akhirnya tak berubah, kami harus tetap menggundulkan diri. Maka jadilah kami Tuyul tuyul berjakun.
Komentar
Posting Komentar