Seperti yang saya bilang di tulisan tulisan "curhat" saya sebelumnya, saya ini adalah anak pesantren, jadi kembali saya sedikit curhat tentang kehidupan saya di pesantren.
Setelah tamat SD entah dari bisikan makhluk halus mana tiba-tiba saya menawarkan diri masuk pesantren ke bapak saya, padahal saya bukan dari keluarga pesantren, bahkan saya dan orang tua bisa dibilang 'buta ' tentang pesantren,
Awalnya kakak saya yang cuma beda 18 bulan dari saya yang mau di pondok-an, karena kakak saya itu nakalnya kebangetan, di SD kerjaannya kelahi tiap hari, syukurnya sih kakak saya selalu menang, ada korban yang sampai berdarah hidungnya karena gak mau kasi bekalnya, atau ada yang kakinya keseleo ditendang dan sebagainya. Singkatnya kakak saya mau dimasukin pesantren tapi nolak dan batal. Karena mungkin niatnya salah, pesantren itu bukan tempat penampungan anak anak nakal.
Dengan batalnya kakak saya, saya tiba tiba mengajukan diri dan tanpa banyak tanya langsung diterima dengan baik, dari rencana mau di masukan pesantren besar di jawa tapi ibu nolak jadi batal, sampai akhirnya masuklah saya di Al-Bayan.
Al-Bayan ini letaknya di kecamatan Bayan kabupaten Lombok Utara, NTB. kecamatan paling timur di Lombok Utara.
Orang orang yang tinggal jauh dari kecamatan bayan atau yang cuma tau nama bayan biasanya menganggap Bayan itu panas, gawah, judul, kuno dll. Apalagi yang tinggal di kota, mungkin orang orang lombok saat itu berfikir kalau semakin ke timur maka semakin ke pelosok. bibi saya waktu tau saya mau sekolah di bayan berkomentar "Eee.. orang lain mau sekolah di Kota kamu malah sekolah di gawah" gawah itu kira-kira artinya hutan atau daerah pelosok pedalaman yang banyak hutannya (cuma kira-kira). Atau ada paman saya yang ngomong "Hahaha mele'm jari ustad??" Artinya "hahaha kamu mau jadi ustad ya?". Pertanyaannya sih biasa, ketawanya itu lho yang gak biasa. Yang jelas masuk pesantren bagi kalangan keluarga saya saat itu dianggap tidak mainstream atau lebih tepatnya 'kuno'. Karena saya bukan peserta ajang kontes dangdut jadi saya ndak perlu mendengar komentar-komentar mereka.
Sebelum ke pesantren saya cuma tau pesantren adalah sekolah agama, jadi pikiran saya pesantren itu isinya anak-anak alim, pake sarung dengan lipatan tebal di perutnya yang orang lombok biasa digunakan untuk taruh tembakau, atau ber songkok kemana-mana bawa tasbih yang ndak berhenti muter, atau yang perempuan berkerudung putih putih Qosidahan bawa rebana nyanyi, "perdamaian perdamaian, perdamaian perdamaian lalalalalala uhuk uhuk" sambil melangkah ke kiri ke kanan terus terusan.
Singkat cerita datanglah saya ke Al-Bayan untuk mendaftar, naah disinilah image pesantren di mata saya berubah, di tempat pendaftaran gak ada orang berjubah, apalagi bersorban, bahkan panitia pendaftaran itu berdasi semua, kereen, bagi saya waktu itu keren, karena jujur sebelumnya saya cuma liat orang berdasi itu ada di TV, guru guru SD saya juga ndak pernah ada yang berdasi, makanya saat itu orang berdasi keliatan keren (di mata saya). Selain karena orang orang berdasi juga karena di area Al-Bayan ada beberapa lapangan olahraga, jadi gak mungkin santri seharian kerjaannya ngaji doang. Melihat itu semakin membulatkan niay saya untuk masuk pesantren.
Ceritanya saya udah jadi anak pesantren, alias santri baru atau lebih layak disebut bocah ingusan pesantren. Bagaimana tidak, banyak hal-hal bodoh yang kita kerjakan saat hari-hari pertama di pesantren. Seperti kita siang bolong setelah solat Zhohr jamaah lari-larian ke kamar, ganti baju buru-buru, ambil bola basket, dan akhirnya main basket, iya kalau lapangannya Indoor, matahari pas ada di atas lapangan basket yang tentu saja tidak ada atapnya, panasnya udah kayak di tengah padang pasir, walaupun lapangan semen, kalo ada air seember di taruh di tengahnya saya yakin itu air langsung menguap habis, anehnya saya dan bocah ingusan pesantren lainnya asyik aja main gak peduli panas terik, mending mainnya bener -,-" . Gak heran kalau setiap liburan, bapak, ibu, kakak adek, paman-paman, bibi-bibi, sepupu, tetangga, pak RT, pak RT kampung sebelah, pak kadus, pak kadus kampung sebelah selalu nanya "kamu kok hitam??" antara pertanyaan beneran atau mengejek dalam hal ini beda tipis, ini pertanyaan yang paling saya benci seumur hidup, selain karena saya ndak pernah bisa jawab selain cuma senyum pahit aja, juga karena pertanyaan ini mengandung rasisme, dan rasisme itu dilarang.
Bukan cuma siang, malam pun gelap-gelapan masih ada suara "dubrak dubrak" bola basket di dribble. Seperti anak kecil yang gak kenal kata lelah.
Yang buat ingusan bukan main basketnya, tapi karena kita santri baru yang baru merasakan suasana berbeda, gak heran kalau selalu ada suara anak nangis tiap harinya, di kamar, di masjid, di tempat wudhu, atau di bawah pohon. Nangis karena ingat ibu atau keluarga di rumah atau menangisi ekor kucing goyang goyang di rumahnya. Di kasus kedua saya masuk di dalamnya, walaupun setelah beberapa saat nangis saya sadar kalau saya ndak punya kucing di rumah.
Tentu tidak hanya tangis kerinduan yang ada di awal masuk pesantren, justru hal hal lucu juga banyak, contohnya saya yang bisa ketawa cuma karena dengar orang ngomong, walaupun gak tau apa yang diomongkan.
Salah satu kelebihan yang didapat di pesantren adalah teman teman baru yang berasal dari daerah yang tidak kita ketahui sebelumnya, lain daerah lain pula logat dan cara bicaranya, mendengar logat logat baru kadang sudah merupakan kelucuan tersendiri bagi saya, hal lain yang mengocok perut adalah ketika teman-teman yang di rumah masing masing terbiasa menggunakan bahasa sasak di pondok dipaksa harus menggunakan bahasa Indonesia, campur aduk bahasa pun terjadi, dan selalu membuat tawa terbahak, bahkan sampai sekarang kata-kata tolang komak dan pengosak sepeda masih bisa membuat tertawa jika di ingat.
Sebagai santri baru atau bocah ingusan pesantren, ada lima hal yang pertama kali ditanamkan kepada kami oleh guru-guru kami, lima hal ini tertulis di banyak tempat, dari kartu iuran, buku tulis pondok, sampai papan papan yang dipajang di taman pondok.
Lima hal ini biasa disebut Panca jiwa Pondok, atau lima jiwa pondok.
Kelima jiwa itu adalah :
1. Keikhlasan
Sangat sulit untuk menjelaskan apa itu ikhlas, yang jelas kami dituntut untuk selalu ikhlas menjalani hidup di pondok.
Di sebuah gedung tempat biasa kami berkumpul ada sebuah tulisan besar terpampang jelas "Sepi ing pamrih, Rame ing gawe". Karena berbahasa jawa tentu saja tidak dimengerti oleh kami, Beberapa kosakata di kalimat tersebut mirip dengan bahasa sasak, jadi kira kira orang lombok yang ndak bisa bahasa jawa yang pertama kali membacanya akan ngawur mengartikan "kalo sepi yaa jangan pamrih karena memang gak ada tempat untuk pamrih, kalo ramai berarti ada yang begawe". Itu hanya perkiraan saya, kalau salah berarti cuma saya sendiri yang berfikir begitu sampai akhirnya saya tau kalau kalimat itu mengajarkan keikhlasan "jangan pamrih, banyaklah bekerja!"
2. Kesederhanaan
Masalah kesederhanaan akan ada banyak sekali contoh di Al-Bayan yang kami rasakan, dari kelas, kamar, dapur hingga makanan. Di dapur kami ada istilah 4T, lauk pokok kami tiap harinya Tahu Tempe Telur dan Terong, dalam seminggu biasanya 4T mendominasi piring kami, kecuali hari jumat yang sedikit lebih mewah, 'daging ayam', sampai ada istilah istilah baru yang diciptakan untuk menu menu ini, "tempe batako" misalnya, tempe yang di potong tebal dan tentu tak setebal batako kemudian digoreng, sebenarnya ini cuma tempe goreng biasa, hanya berukuran lebih tebal dari tempe goreng biasanya. Atau "tempe ale-ale", tempe yang direbus santan dengan campuran bumbu bumbu, entah siapa yang memberikan nama, yang jelas nama ini terus turun menurun dari generasi ke generasi akan selalu digunakan. Tapi memang benar pepatah bilang "lapar adalah lauk terbaik", bagaimana pun rasanya lauk lauk itu akan cepat habis tanpa sisa. Lain kali saya akan menceritakan bagaimana sederhananya kelas pertama kali. insyaallah
3. Berdikari
Jiwa berdikari atau mandiri tentu sudah ditanamkan bahkan sejak pertama kali kami masuk di pondok, jauh dari orang tua dan keluarga mau tidak mau harus memaksa kami melakukan banyak hal sendiri, lagu dangdut Meggi z jadi theme song paling cocok untuk dinyanyikan setiap hari.
"masak masak sendiri
makan makan sendiri
Cuci baju sendiri
Tidurpun sendiri
lalalalala uhuk uhuk "
Walaupun kita gak masak sendiri alias dimasakkan bibi' dapur, makan juga ramai-ramai, tidur juga gak pernah sendiri, kecuali kalo ada yang tidur di kamar mandi, cuci baju sendiri walaupun ber ramai-ramai juga. Yang jelas kemandirian menjadi salah satu jiwa penting yang harus kami miliki.
4. Ukhuwah Islamiah
Artinya jiwa persaudaraan, sebagai sesama muslim apalagi sebagai santri yang menuntut ilmu di tempat yang sama, makan dengan lauk yang sama, minum dari sumber air yang sama dan sebagainya tentu saja kami harus menganggap semuanya saudara, yang artinya tak ada pertikaian, perkelahian antar sesama. Sebagai saudara tentu kami harus selalu berbagi masing masing, Kasus yang biasa banyak terjadi dalam hal ini adalah santri yang pelit alias kikir bin bakhkil, yang menyimpan makanan berbulan-bulan di lemari dan makan sendiri, atau santri yang tengah malam makan kerupuk diam-diam saat yang lain tidur, berharap gak ada yang mengetahuinya makan, padahal suara kriuk kriuk kerupuknya terdengar sampai kamar sebelah, orang orang yang seperti ini biasanya akan dapat akibatnya, lemari nya dibongkar, diambil makanannya sampai perusakan pintu lemari. Entah ini hal yang buruk atau tidak tapi "hukuman" ini akan memberikan efek yang cukup untuk membuat orang tersebut jera. Yaah walaupun ada aja santri yang masih gak bisa mengerti.
5. Jiwa bebas
Jiwa bebas disini bukan berarti para santri bebas melakukan segala hal sesuka hati loncat sana loncat sini seperti kera sakti terkurung terpenjara dalam gua di gunung tinggi sunyi tempat hukuman para dewa. Karena kami nyantri bukan untuk cari kitab suci seperti kera sakti.
Jiwa bebas disini lebih berarti kepada kebebasan dalam berfikir dan berbuat, bebas dalam menentukan masa depan, bebas memilih jalan hidup atau sampai bebas dari pengaruh asing seperti bagaimana sejarah pesantren yang mengisolir dari kehidupan barat yang dulu dibawa para penjajah.
Panca jiwa inilah yang bisa membuat kita disebut anak pesantren, walaupun kita sudah tak lagi tinggal di pesantren jika jiwa ini masih ada dalam diri kita, kita masih disebut anak pesantren, dan inilah anak pesantren yang sesungguhnya.
Belakangan banyak kasus yang mengakibatkan pikiran negatif terhadap pondok pesantren, mulai dari kasus terorisme sampai pemberontakan seperti ISIS. Padahal justru pesantren yang sebenarnya tak ada yang mengajar hal hal tersebut, jika ada "pesantren" yang mengajarkan hal tersebut maka itu bukanlah Pesantren, alias tempat yang mengatasnamakan pesantren. "Jangan melihat pesantren seperti monyet makan manggis dan langsung dibuang karena kulitnya terasa pahit, padahal isinya manis. Lihatlah dan ketahuilah pesantren dari dalamnya.
sasak : suku terbesar di pulau Lombok, dan bahasa sasak adalah bahasa yang digunakan oleh hampir seluruh warga Lombok
Begawe : (bahasa sasak) acara perayaan seperti pernikahan, khitanan, aqiqahan dan lain sebagainya.
Nyantri : istilah untuk santri yang belajar dan menetap di pondok pesantren.
Setelah tamat SD entah dari bisikan makhluk halus mana tiba-tiba saya menawarkan diri masuk pesantren ke bapak saya, padahal saya bukan dari keluarga pesantren, bahkan saya dan orang tua bisa dibilang 'buta ' tentang pesantren,
Awalnya kakak saya yang cuma beda 18 bulan dari saya yang mau di pondok-an, karena kakak saya itu nakalnya kebangetan, di SD kerjaannya kelahi tiap hari, syukurnya sih kakak saya selalu menang, ada korban yang sampai berdarah hidungnya karena gak mau kasi bekalnya, atau ada yang kakinya keseleo ditendang dan sebagainya. Singkatnya kakak saya mau dimasukin pesantren tapi nolak dan batal. Karena mungkin niatnya salah, pesantren itu bukan tempat penampungan anak anak nakal.
Dengan batalnya kakak saya, saya tiba tiba mengajukan diri dan tanpa banyak tanya langsung diterima dengan baik, dari rencana mau di masukan pesantren besar di jawa tapi ibu nolak jadi batal, sampai akhirnya masuklah saya di Al-Bayan.
Al-Bayan ini letaknya di kecamatan Bayan kabupaten Lombok Utara, NTB. kecamatan paling timur di Lombok Utara.
Orang orang yang tinggal jauh dari kecamatan bayan atau yang cuma tau nama bayan biasanya menganggap Bayan itu panas, gawah, judul, kuno dll. Apalagi yang tinggal di kota, mungkin orang orang lombok saat itu berfikir kalau semakin ke timur maka semakin ke pelosok. bibi saya waktu tau saya mau sekolah di bayan berkomentar "Eee.. orang lain mau sekolah di Kota kamu malah sekolah di gawah" gawah itu kira-kira artinya hutan atau daerah pelosok pedalaman yang banyak hutannya (cuma kira-kira). Atau ada paman saya yang ngomong "Hahaha mele'm jari ustad??" Artinya "hahaha kamu mau jadi ustad ya?". Pertanyaannya sih biasa, ketawanya itu lho yang gak biasa. Yang jelas masuk pesantren bagi kalangan keluarga saya saat itu dianggap tidak mainstream atau lebih tepatnya 'kuno'. Karena saya bukan peserta ajang kontes dangdut jadi saya ndak perlu mendengar komentar-komentar mereka.
Sebelum ke pesantren saya cuma tau pesantren adalah sekolah agama, jadi pikiran saya pesantren itu isinya anak-anak alim, pake sarung dengan lipatan tebal di perutnya yang orang lombok biasa digunakan untuk taruh tembakau, atau ber songkok kemana-mana bawa tasbih yang ndak berhenti muter, atau yang perempuan berkerudung putih putih Qosidahan bawa rebana nyanyi, "perdamaian perdamaian, perdamaian perdamaian lalalalalala uhuk uhuk" sambil melangkah ke kiri ke kanan terus terusan.
Singkat cerita datanglah saya ke Al-Bayan untuk mendaftar, naah disinilah image pesantren di mata saya berubah, di tempat pendaftaran gak ada orang berjubah, apalagi bersorban, bahkan panitia pendaftaran itu berdasi semua, kereen, bagi saya waktu itu keren, karena jujur sebelumnya saya cuma liat orang berdasi itu ada di TV, guru guru SD saya juga ndak pernah ada yang berdasi, makanya saat itu orang berdasi keliatan keren (di mata saya). Selain karena orang orang berdasi juga karena di area Al-Bayan ada beberapa lapangan olahraga, jadi gak mungkin santri seharian kerjaannya ngaji doang. Melihat itu semakin membulatkan niay saya untuk masuk pesantren.
Ceritanya saya udah jadi anak pesantren, alias santri baru atau lebih layak disebut bocah ingusan pesantren. Bagaimana tidak, banyak hal-hal bodoh yang kita kerjakan saat hari-hari pertama di pesantren. Seperti kita siang bolong setelah solat Zhohr jamaah lari-larian ke kamar, ganti baju buru-buru, ambil bola basket, dan akhirnya main basket, iya kalau lapangannya Indoor, matahari pas ada di atas lapangan basket yang tentu saja tidak ada atapnya, panasnya udah kayak di tengah padang pasir, walaupun lapangan semen, kalo ada air seember di taruh di tengahnya saya yakin itu air langsung menguap habis, anehnya saya dan bocah ingusan pesantren lainnya asyik aja main gak peduli panas terik, mending mainnya bener -,-" . Gak heran kalau setiap liburan, bapak, ibu, kakak adek, paman-paman, bibi-bibi, sepupu, tetangga, pak RT, pak RT kampung sebelah, pak kadus, pak kadus kampung sebelah selalu nanya "kamu kok hitam??" antara pertanyaan beneran atau mengejek dalam hal ini beda tipis, ini pertanyaan yang paling saya benci seumur hidup, selain karena saya ndak pernah bisa jawab selain cuma senyum pahit aja, juga karena pertanyaan ini mengandung rasisme, dan rasisme itu dilarang.
Bukan cuma siang, malam pun gelap-gelapan masih ada suara "dubrak dubrak" bola basket di dribble. Seperti anak kecil yang gak kenal kata lelah.
Yang buat ingusan bukan main basketnya, tapi karena kita santri baru yang baru merasakan suasana berbeda, gak heran kalau selalu ada suara anak nangis tiap harinya, di kamar, di masjid, di tempat wudhu, atau di bawah pohon. Nangis karena ingat ibu atau keluarga di rumah atau menangisi ekor kucing goyang goyang di rumahnya. Di kasus kedua saya masuk di dalamnya, walaupun setelah beberapa saat nangis saya sadar kalau saya ndak punya kucing di rumah.
Tentu tidak hanya tangis kerinduan yang ada di awal masuk pesantren, justru hal hal lucu juga banyak, contohnya saya yang bisa ketawa cuma karena dengar orang ngomong, walaupun gak tau apa yang diomongkan.
Salah satu kelebihan yang didapat di pesantren adalah teman teman baru yang berasal dari daerah yang tidak kita ketahui sebelumnya, lain daerah lain pula logat dan cara bicaranya, mendengar logat logat baru kadang sudah merupakan kelucuan tersendiri bagi saya, hal lain yang mengocok perut adalah ketika teman-teman yang di rumah masing masing terbiasa menggunakan bahasa sasak di pondok dipaksa harus menggunakan bahasa Indonesia, campur aduk bahasa pun terjadi, dan selalu membuat tawa terbahak, bahkan sampai sekarang kata-kata tolang komak dan pengosak sepeda masih bisa membuat tertawa jika di ingat.
Sebagai santri baru atau bocah ingusan pesantren, ada lima hal yang pertama kali ditanamkan kepada kami oleh guru-guru kami, lima hal ini tertulis di banyak tempat, dari kartu iuran, buku tulis pondok, sampai papan papan yang dipajang di taman pondok.
Lima hal ini biasa disebut Panca jiwa Pondok, atau lima jiwa pondok.
Kelima jiwa itu adalah :
1. Keikhlasan
Sangat sulit untuk menjelaskan apa itu ikhlas, yang jelas kami dituntut untuk selalu ikhlas menjalani hidup di pondok.
Di sebuah gedung tempat biasa kami berkumpul ada sebuah tulisan besar terpampang jelas "Sepi ing pamrih, Rame ing gawe". Karena berbahasa jawa tentu saja tidak dimengerti oleh kami, Beberapa kosakata di kalimat tersebut mirip dengan bahasa sasak, jadi kira kira orang lombok yang ndak bisa bahasa jawa yang pertama kali membacanya akan ngawur mengartikan "kalo sepi yaa jangan pamrih karena memang gak ada tempat untuk pamrih, kalo ramai berarti ada yang begawe". Itu hanya perkiraan saya, kalau salah berarti cuma saya sendiri yang berfikir begitu sampai akhirnya saya tau kalau kalimat itu mengajarkan keikhlasan "jangan pamrih, banyaklah bekerja!"
2. Kesederhanaan
Masalah kesederhanaan akan ada banyak sekali contoh di Al-Bayan yang kami rasakan, dari kelas, kamar, dapur hingga makanan. Di dapur kami ada istilah 4T, lauk pokok kami tiap harinya Tahu Tempe Telur dan Terong, dalam seminggu biasanya 4T mendominasi piring kami, kecuali hari jumat yang sedikit lebih mewah, 'daging ayam', sampai ada istilah istilah baru yang diciptakan untuk menu menu ini, "tempe batako" misalnya, tempe yang di potong tebal dan tentu tak setebal batako kemudian digoreng, sebenarnya ini cuma tempe goreng biasa, hanya berukuran lebih tebal dari tempe goreng biasanya. Atau "tempe ale-ale", tempe yang direbus santan dengan campuran bumbu bumbu, entah siapa yang memberikan nama, yang jelas nama ini terus turun menurun dari generasi ke generasi akan selalu digunakan. Tapi memang benar pepatah bilang "lapar adalah lauk terbaik", bagaimana pun rasanya lauk lauk itu akan cepat habis tanpa sisa. Lain kali saya akan menceritakan bagaimana sederhananya kelas pertama kali. insyaallah
3. Berdikari
Jiwa berdikari atau mandiri tentu sudah ditanamkan bahkan sejak pertama kali kami masuk di pondok, jauh dari orang tua dan keluarga mau tidak mau harus memaksa kami melakukan banyak hal sendiri, lagu dangdut Meggi z jadi theme song paling cocok untuk dinyanyikan setiap hari.
"masak masak sendiri
makan makan sendiri
Cuci baju sendiri
Tidurpun sendiri
lalalalala uhuk uhuk "
Walaupun kita gak masak sendiri alias dimasakkan bibi' dapur, makan juga ramai-ramai, tidur juga gak pernah sendiri, kecuali kalo ada yang tidur di kamar mandi, cuci baju sendiri walaupun ber ramai-ramai juga. Yang jelas kemandirian menjadi salah satu jiwa penting yang harus kami miliki.
4. Ukhuwah Islamiah
Artinya jiwa persaudaraan, sebagai sesama muslim apalagi sebagai santri yang menuntut ilmu di tempat yang sama, makan dengan lauk yang sama, minum dari sumber air yang sama dan sebagainya tentu saja kami harus menganggap semuanya saudara, yang artinya tak ada pertikaian, perkelahian antar sesama. Sebagai saudara tentu kami harus selalu berbagi masing masing, Kasus yang biasa banyak terjadi dalam hal ini adalah santri yang pelit alias kikir bin bakhkil, yang menyimpan makanan berbulan-bulan di lemari dan makan sendiri, atau santri yang tengah malam makan kerupuk diam-diam saat yang lain tidur, berharap gak ada yang mengetahuinya makan, padahal suara kriuk kriuk kerupuknya terdengar sampai kamar sebelah, orang orang yang seperti ini biasanya akan dapat akibatnya, lemari nya dibongkar, diambil makanannya sampai perusakan pintu lemari. Entah ini hal yang buruk atau tidak tapi "hukuman" ini akan memberikan efek yang cukup untuk membuat orang tersebut jera. Yaah walaupun ada aja santri yang masih gak bisa mengerti.
5. Jiwa bebas
Jiwa bebas disini bukan berarti para santri bebas melakukan segala hal sesuka hati loncat sana loncat sini seperti kera sakti terkurung terpenjara dalam gua di gunung tinggi sunyi tempat hukuman para dewa. Karena kami nyantri bukan untuk cari kitab suci seperti kera sakti.
Jiwa bebas disini lebih berarti kepada kebebasan dalam berfikir dan berbuat, bebas dalam menentukan masa depan, bebas memilih jalan hidup atau sampai bebas dari pengaruh asing seperti bagaimana sejarah pesantren yang mengisolir dari kehidupan barat yang dulu dibawa para penjajah.
Panca jiwa inilah yang bisa membuat kita disebut anak pesantren, walaupun kita sudah tak lagi tinggal di pesantren jika jiwa ini masih ada dalam diri kita, kita masih disebut anak pesantren, dan inilah anak pesantren yang sesungguhnya.
Belakangan banyak kasus yang mengakibatkan pikiran negatif terhadap pondok pesantren, mulai dari kasus terorisme sampai pemberontakan seperti ISIS. Padahal justru pesantren yang sebenarnya tak ada yang mengajar hal hal tersebut, jika ada "pesantren" yang mengajarkan hal tersebut maka itu bukanlah Pesantren, alias tempat yang mengatasnamakan pesantren. "Jangan melihat pesantren seperti monyet makan manggis dan langsung dibuang karena kulitnya terasa pahit, padahal isinya manis. Lihatlah dan ketahuilah pesantren dari dalamnya.
sasak : suku terbesar di pulau Lombok, dan bahasa sasak adalah bahasa yang digunakan oleh hampir seluruh warga Lombok
Begawe : (bahasa sasak) acara perayaan seperti pernikahan, khitanan, aqiqahan dan lain sebagainya.
Nyantri : istilah untuk santri yang belajar dan menetap di pondok pesantren.
Komentar
Posting Komentar